Delwin Alexander, 42 tahun, adalah seorang pengusaha sukses yang tampan dan berwibawa. Tubuhnya terjaga, rahang tegas, dan aura ayah yang protektif selalu membuat orang segan. Ia menikah dengan Olive Michaela selama 20 tahun dan dikaruniai seorang putri tunggal bernama Michelle Alexander, atau Michie.
Michie kini berusia 18 tahun. Tubuhnya adalah impian banyak pria — tinggi 162cm dengan bentuk sandglass yang ekstrem. Pinggangnya kecil, pinggulnya lebar, payudaranya padat dan kencang, serta bokongnya yang bulat sempurna. Rambut hitamnya yang panjang sering tergerai hingga pinggang, membuatnya terlihat seperti boneka seks hidup.
Sejak Michie berusia 17 tahun, ia mulai berubah. Dari gadis manis menjadi gadis binal yang suka menggoda papinya sendiri.
Pagi itu rumah keluarga Alexander dipenuhi aroma kopi dan telur orak-arik. Olive, 40 tahun, sibuk mondar-mandir di dapur dengan rapi seperti biasanya.
“Michie sayang, turun dong! Sarapan bareng dulu sebelum Mommy berangkat,” panggil Olive dari dapur.
Tak lama kemudian, Michie turun dari tangga dengan langkah ringan. Ia hanya memakai kaos oversized milik Delwin yang kebesaran, ujungnya nyaris menutupi bokongnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai.
Olive menoleh dan menggeleng kecil. “Ya ampun, Michie. Papi kan ada di rumah, masa cuma pakai kaos Papi doang? Ganti baju yang sopan dulu, Sayang.”
Michie mendekat ke meja makan dan duduk tepat di sebelah Delwin. “Nyaman kok, Mom. Kaos Papi longgar dan wangi. Lagian di rumah aja.”
Delwin yang sedang minum kopi hanya diam, tapi tubuhnya menegang saat Michie sengaja menempelkan pahanya ke pahanya di bawah meja.
Olive menyajikan sarapan untuk mereka bertiga. “Delwin, hari ini kerja dari rumah lagi?”
“Iya, ada beberapa meeting online,” jawab Delwin sambil berusaha terlihat tenang.
Saat Olive berbalik ke dapur untuk mengambil jus, Michie langsung menatap papinya dengan pandangan genit. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu menjulurkan lidah kecilnya sekilas, menjilat bibir dengan sensual. Matanya penuh godaan.
Michie hanya tersenyum nakal dan mengedipkan sebelah mata.
Olive kembali ke meja dengan dua gelas jus. Suasana kembali normal.
“Michie, kuliah jam berapa hari ini?” tanya Olive sambil duduk.
“Jam dua siang, Mom. Masih santai,” jawab Michie manis, tangannya di bawah meja diam-diam mengusap paha Delwin.
“Bagus. Belajar yang rajin ya, Sayang. Papi, tolong awasin Michie jangan sampai keluyuran.”
“Iya, Sayang,” jawab Delwin dengan suara agak berat.
Setelah sarapan selesai, Olive berdiri dan merapikan tas kerjanya.
“Mommy berangkat dulu ya. Ada meeting pagi dengan supplier. Delwin, jaga Michie baik-baik. Michie, jangan nakal.”
Olive mencium pipi suaminya, lalu mencium kening Michie dengan sayang.
“Dadah, Mom. Hati-hati di jalan,” kata Michie dengan suara polos.
Begitu pintu depan tertutup dan suara mobil Olive menjauh, Michie langsung berubah liar.
Ia berdiri, lalu duduk di pangkuan Delwin menghadapnya. Kedua tangannya melingkar di leher papinya.
“Papi… akhirnya cuma kita berdua,” bisik Michie genit sambil menggoyang pinggulnya pelan, menggesekkan vaginanya yang sudah basah ke penis Delwin.
Delwin mengerang pelan, tangannya memegang pinggang Michie. “Michie… kamu benar-benar mau bikin Papi masuk neraka ya?”
Michie tersenyum nakal. Tangannya turun, mengelus penis papinya yang sudah keras dari luar celana piyama dengan gerakan menggoda.
“penis Papi udah ngaceng gede gini… tiap pagi Michie godain, Papi cuma bisa diam dan menahan. Papi nggak kasihan sama Michie yang basah setiap hari mikirin penis Papi?”
Delwin menarik napas kasar. “Michie… kamu anak Papi. Ini salah…”
“Tapi Michie mau, Pi,” bisik Michie di telinga Delwin sambil menggigit cuping telinganya pelan. “Michie mau Papi masukin penis gede ini ke perek Michie. Mau disetubuhi sama Papi… mau dikentot sama Papi…”
Tiba-tiba terdengar suara mobil kembali mendekat. Olive.
“Shit!” Delwin buru-buru mendorong Michie. Michie cepat kembali ke kursinya dan merapikan kaosnya.
Olive masuk dengan tergesa. “Sayang, Mommy lupa bawa laptop. Kalian masih di sini?”
Delwin berdeham. “Iya… masih sarapan.”
Olive mengambil laptopnya di meja kerja, lalu menatap Michie yang wajahnya sedikit merah.
Olive mengangguk, lalu mencium pipi Delwin sekali lagi. “Mommy benar-benar berangkat ya. Jaga rumah.”
Begitu Olive pergi untuk kedua kalinya, Michie tertawa kecil dan kembali ke pangkuan Delwin.
“Deg-degan ya, Pi? Hampir ketahuan,” goda Michie sambil kembali mengelus penis papinya. “Malam nanti Michie tunggu Papi di kamar Michie ya… Mommy pasti capek dan tidur cepat. Papi boleh masuk pelan-pelan ke perek Michie… boleh creampie sebanyak yang Papi mau.”
Delwin menatap putrinya dengan tatapan penuh nafsu dan konflik.
“Michie… kamu benar-benar ingin menghancurkan Papi.”
Michie tersenyum manis, tapi matanya penuh kelicikan.
“Bukan menghancurkan, Pi… Michie cuma mau Papi milikin Michie. Sepenuhnya.”
Setelah sarapan dan kejadian panas di meja makan, Michie naik ke kamar mandi. Sekitar 45 menit kemudian, ia turun kembali dalam keadaan sudah rapi untuk berangkat ke kampus. Rambut panjangnya yang hitam masih sedikit lembab dan wangi shampoo. Ia memakai kemeja putih ketat yang dua kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan payudaranya yang padat. Bawahnya rok hitam pensil selutut yang cukup ketat, menonjolkan pinggul lebar dan bokong bulatnya. Penampilan mahasiswi yang seksi tapi tetap “sopan” di mata orang luar.
Delwin sedang duduk di ruang kerja di lantai bawah, fokus pada meeting Zoom. Layar laptop menampilkan beberapa kepala divisi dan manajer perusahaan. Ia sedang mempresentasikan laporan kuartal dengan suara tegas dan berwibawa.
“…sehingga proyeksi pendapatan di Q3 diperkirakan naik 18% jika strategi ekspansi ini dijalankan. Saya yakin—”
Tiba-tiba Michie muncul di ambang pintu ruang kerja. Ia tersenyum binal, bibirnya melengkung nakal. Tanpa suara, ia menghampiri Delwin dari samping.
Delwin melirik sekilas dan matanya langsung melebar. Ia memberi isyarat dengan tangan agar Michie pergi, tapi putrinya malah semakin mendekat.
Michie berdiri di belakang kursi Delwin, tangannya meluncur pelan ke dada papinya dari atas bahu, lalu turun semakin rendah. Dengan berani, ia mengelus penis Delwin dari luar celana bahan yang ia pakai untuk meeting. Jarinya menekan dan mengusap naik-turun dengan gerakan lambat tapi penuh tekanan.
“Nggh…” Delwin menahan erangan di tenggorokan. Suaranya hampir goyah saat melanjutkan presentasi, “Maaf, saya… lanjutkan. Jadi, dari data yang ada…”
Michie tersenyum semakin lebar. Ia menunduk, mencium leher Delwin dengan lembut, lalu menjilat dan menggigit pelan kulitnya. Matanya menatap layar laptop dengan tatapan genit, seolah menantang papinya. Tangan yang mengelus penis semakin berani — ia meremas kepala penis yang sudah mengeras dari luar celana.
Delwin mencengkeram mouse keras-keras, rahangnya tegang. Wajahnya mulai memerah. Ia berusaha tetap fokus, tapi sulit sekali saat putrinya sendiri sedang menggoda penisnya di tengah meeting penting.
“Untuk bagian marketing… kita bisa… hmm… alokasikan anggaran tambahan…”
Michie terkikik pelan di telinganya. “penis Papi udah ngaceng banget… enak ya dipijit Michie sambil presentasi?” bisiknya sangat pelan.
Presentasi akhirnya selesai. Begitu tombol mute di tekan dan kamera dimatikan, Delwin langsung membalikkan badan dengan marah.
“Michelle Alexander! Kamu gila ya?! Papi sedang meeting penting! Apa-apaan ini?!” bentaknya dengan suara tertahan tapi penuh emosi.
Michie tidak mundur sama sekali. Malah ia langsung duduk di pangkuan Delwin, menghadap ke depan, lalu melumat bibir papinya dengan rakus. Ciumannya panas, lidahnya langsung menyusup masuk, menari liar dan menuntut.
Delwin berusaha mendorong bahu Michie. “Michie! Stop— mmph!”
Tapi anehnya, tenaga Michie seolah lebih kuat kali ini. Tubuh gadis 18 tahun itu menempel erat, payudaranya menekan dada Delwin. Delwin berusaha menyingkirkan putrinya berkali-kali, tapi Michie semakin agresif. Akhirnya, nafsu yang sudah terlanjur membara membuat Delwin menyerah. Ia balas melumat bibir Michie dengan ganas, tangannya meremas pinggul putrinya kuat sambil mendesah di dalam ciuman.
Ciuman mereka panjang, basah, dan penuh nafsu. Suara kecupan dan desahan samar memenuhi ruangan. Lidah mereka saling berbelit, saling mengisap.
Ketika akhirnya mereka melepaskan ciuman, keduanya sudah terengah-engah. Seutas benang liur menghubungkan bibir mereka sebelum putus.
Michie tersenyum puas, wajahnya memerah karena gairah. Ia mengusap bibir Delwin dengan ibu jarinya yang lembut, lalu mengecup pipi papinya dengan mesra.
“Michie berangkat kuliah dulu ya, Papi sayang…” bisiknya genit. “Kerja yang rajin. Nanti malam Michie tunggu Papi di kamar… jangan telat. Michie mau Papi kasih susu hangat yang banyak sebelum tidur.”
Michie turun dari pangkuan Delwin, merapikan roknya yang agak naik, lalu mengambil tas kuliahnya. Sebelum keluar pintu, ia menoleh sekali lagi dan melemparkan kecupan.
“See you tonight, Papi. Jaga penis gede itu buat Michie ya~”
Delwin hanya bisa duduk diam di kursinya, wajahnya masih merah padam, napasnya belum teratur, dan penisnya masih keras menegang di balik celana. Ia menatap pintu yang tertutup dengan campuran marah, bersalah, dan nafsu yang semakin sulit dikendalikan.
“Anak ini… benar-benar akan membunuh Papi,” gumamnya parau.
Malam itu suasana makan malam di rumah keluarga Alexander terlihat hangat di permukaan. Olive sudah pulang sejak sore, Michie juga sudah kembali dari kampus sejak jam tujuh. Meja makan sudah tersaji dengan masakan Olive yang enak.
Michie turun ke meja makan hanya memakai tanktop hitam ketat tanpa bra dan hotpants denim pendek yang nyaris tak menutupi bokongnya. Rambut panjangnya diikat messy bun yang sengaja dibuat acak-acakan, beberapa helai rambut jatuh di leher dan bahunya, memberi kesan baru bangun tidur yang seksi.
“Wah, Michie cantik malam ini,” puji Olive sambil tersenyum.
“Makasih, Mom,” jawab Michie manis sambil duduk di sebelah Delwin seperti biasa.
Delwin melirik putrinya sekilas, rahangnya langsung mengeras. Tanktop tipis itu jelas memperlihatkan bentuk puting Michie yang sudah mengeras, sementara hotpantsnya naik tinggi hingga garis bawah bokongnya terlihat.
Mereka bertiga makan sambil mengobrol ringan.
“Gimana meeting Papi hari ini?” tanya Olive.
Delwin berdeham, “Biasa… cukup lancar.” Ia teringat bagaimana Michie menggoda penisnya di tengah presentasi tadi siang.
Michie tersenyum kecil di balik sendoknya. “Michie kuliah hari ini seru, Mom. Ada presentasi kelompok juga. Papi tahu nggak, Michie jadi ketua kelompoknya.”
“Pintar anak Mommy,” Olive tertawa bangga. “Delwin, kamu harus ajarin Michie lebih rajin ya. Dia kan suka manja sama Papi-nya.”
Delwin hanya mengangguk kaku, sementara di bawah meja, kaki Michie yang mulus sengaja menggesek betisnya.
Setelah makan malam selesai, Olive berdiri mengumpulkan piring. “Mommy cuci piring dulu ya. Kalian istirahat aja.”
Begitu Olive sibuk di dapur dengan air mengalir, Michie langsung bergerak cepat. Ia mendekat ke Delwin yang masih duduk, berdiri di samping kursinya, lalu membungkuk rendah sehingga payudaranya hampir menyentuh lengan papinya.
“Papi…” bisiknya genit, suaranya rendah dan menggoda. “Michie tunggu Papi di kamar malam ini ya. Jangan pura-pura tidur. Michie pakai sesuatu yang spesial buat Papi.”
Delwin menoleh tegang. “Michie, Mommy masih di rumah. Jangan gila.”
Michie tersenyum nakal, tangannya turun mengelus penis Delwin dari luar celana sekali lagi. “Kalau Papi nggak datang… Michie bakal cerita ke Mommy semua. Mulai dari tadi siang Papi diam aja pas Michie pegang penis Papi di ruang kerja, sampe Papi suka ngintip Michie mandi dari celah pintu kamar mandi. Papi pikir Michie nggak tahu?”
Delwin terkejut. Wajahnya memucat sekaligus memerah. “Kamu—”
“Michie serius, Pi,” potong Michie sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya penuh ancaman dan nafsu. “Papi datang malam ini, atau besok pagi Mommy bakal denger cerita yang sangat menarik.”
Tanpa menunggu jawaban Delwin, Michie berbalik dan naik tangga dengan langkah ringan, bokongnya bergoyang menggoda di balik hotpants pendek itu.
Tengah malam, pukul 01.40.
Delwin berbaring gelisah di samping Olive yang sudah tertidur pulas karena capek seharian. Setelah hampir satu jam berperang dengan pikirannya sendiri, akhirnya ia bangun pelan-pelan. Dengan hati-hati ia keluar dari kamar utama dan berjalan menuju kamar Michie di ujung koridor.
Pintu kamar Michie terbuka lebar. Lampu kamar menyala temaram dengan cahaya merah keemasan. Delwin mengerutkan kening, bingung dan curiga.
Ia melangkah masuk.
Tepat saat tubuhnya melewati ambang pintu, Michie muncul dari balik pintu dan langsung menutupnya pelan. klik.
Delwin membalikkan badan dan langsung terpaku.
Michie berdiri di depannya dengan lingerie merah menyala yang sangat seksi. Bra push-up merah transparan yang nyaris tak mampu menahan payudaranya yang padat, celana dalam tali tipis yang hanya menutupi sedikit bagian depan vaginanya, dan garter belt yang menghubungkan stoking hitam tipis di pahanya. Rambut panjangnya sudah terurai lagi, jatuh di bahu.
“Papi datang juga akhirnya…” bisik Michie dengan suara manja penuh kemenangan. Ia melangkah mendekat, pinggulnya bergoyang pelan. “Michie kira Papi bakal pengecut semalaman.”
Delwin menelan ludah susah payah. Matanya tak bisa lepas dari tubuh putrinya yang terpampang begitu vulgar dan menggoda.
“Michie… pintu tadi terbuka lebar. Kalau Mommy bangun dan lewat—”
“Sstt…” Michie meletakkan jari di bibir papinya. “Papi tenang aja. Mommy tidur nyenyak. Lagian… Michie sengaja biarin pintu terbuka. Biar Papi lebih deg-degan.”
Ia mendekat hingga tubuhnya menempel rapat ke tubuh Delwin. Payudaranya yang empuk menekan dada papinya. Tangan Michie turun, menggenggam penis Delwin yang sudah keras dari luar celana piyama.
“Papi lihat… Michie pakai lingerie merah khusus buat Papi. Mau kentot Michie malam ini? Atau mau Michie yang naik ke atas dan goyang sendiri di penis Papi?”
Delwin hanya bisa menarik napas kasar, tangannya tanpa sadar meremas pinggul putrinya.
Malam itu, batas yang selama ini ia pertahankan akhirnya benar-benar runtuh.
Tengah malam itu, kamar Michie hanya diterangi lampu tidur berwarna merah temaram. Begitu Delwin melangkah masuk, Michie langsung menutup pintu dan mengunci dengan suara klik pelan.
Tanpa banyak kata, Michie mendorong dada Delwin dengan kedua tangan hingga papinya terduduk di pinggir kasur. Gadis 18 tahun itu langsung naik ke pangkuannya, mencengkeram rahang Delwin, lalu melumat bibir papinya dengan rakus. Lidahnya masuk dalam, menjilat, mengisap, dan menari liar di dalam mulut Delwin.
Delwin sempat kaku sejenak, tapi nafsu yang sudah lama ditahannya akhirnya meledak. Dengan pasrah dan lapar, ia balas mencium putrinya. Tangan besarnya meremas payudara Michie yang padat dari atas lingerie merah tipis itu, meremas kasar hingga Michie mendesah di dalam ciuman.
“Mmhh… Papi…” erang Michie di sela ciuman.
Tangan Michie turun cepat, melepas kancing piyama Delwin lalu menarik celana piyama beserta boksernya hingga ke bawah. penis Delwin langsung melompat keluar, sudah keras maksimal dan menegang.
Michie turun dari pangkuan, berlutut di antara kedua kaki papinya. Ia menatap Delwin dengan mata binal penuh nafsu, bibirnya melengkung nakal.
Ia meludah banyak-banyak ke kepala penis Delwin, lalu menggenggamnya dengan kedua tangan. Mulutnya terbuka lebar, lidahnya menjilat dari bawah hingga ujung dengan lambat, mengecap setiap inci. Lalu ia melahapnya.
“Ngghh… sial…” Delwin mengerang pelan, tangannya mencengkeram seprai.
Michie mulai menggerakkan kepalanya naik-turun, semakin dalam. Suara gluck… gluck… gluck… basah memenuhi kamar. Ia menarik penis Delwin keluar sejenak, lidahnya menjilat dan melahap kedua buah zakar papinya, mengisapnya satu per satu dengan genit.
“Enak, Pi? vagina Michie udah banjir dari tadi nunggu ini,” bisiknya sebelum kembali melahap penis Delwin. Kali ini ia mendorong kepalanya lebih dalam, mencoba deepthroat. penis tebal itu masuk hingga tenggorokannya, membuat Michie tersedak tapi tetap bertahan, air mata sedikit keluar di sudut matanya.
Delwin tak tahan lagi. Ia menahan kepala Michie dengan kedua tangan, mendesak pinggulnya ke atas, menikmati tenggorokan putrinya yang sempit dan panas.
“Fuck… Michie… dalam banget…”
Michie akhirnya melepas dengan napas tersengal, air liur menetes dari bibirnya yang merah dan bengkak.
Ia naik lagi ke pangkuan Delwin, menarik celana dalam tipisnya ke samping. vaginanya yang pink, mulus, dan sudah banjir cairan menggesek-gesek kepala penis papinya.
“Pelan-pelan ya, Pi…” bisik Michie sambil menatap mata Delwin.
Ia menurunkan pinggulnya perlahan. Kepala penis yang besar meregang vaginanya lebar. Michie mendesah panjang, wajahnya memerah. Sentimeter demi sentimeter, penis Delwin masuk semakin dalam hingga akhirnya tertelan seluruhnya.
Delwin mengerutkan kening. “Michie… nggak ada darah? Kamu…?”
Michie tersenyum nakal sambil mulai menaik-turunkan pinggulnya pelan. “Michie udah sering main sama dildo gede di kamar… ini pertama kali Michie main sama penis beneran. Tapi Michie seneng… penis Papi jauh lebih enak daripada dildo.”
Michie mulai mempercepat gerakannya. Bokongnya yang bulat naik-turun dengan irama menggoda, payudaranya bergoyang di dalam bra lingerie. Ia menatap Delwin dengan tatapan binal sambil menggigit bibir.
“Enak, Pi? vagina anak Papi enak kan?”
Delwin mengerang keenakan, tangannya mencengkeram pinggul Michie. Ia tak tahan lagi. Dengan kasar ia merobek bra lingerie merah itu hingga payudara Michie meloncat keluar, lalu meraup dan meremas keduanya kuat sambil mengisap putingnya bergantian.
“Ahh! Papi… kasar… enak…” Michie mengerang semakin keras.
Gerakan Michie semakin liar. Ia goyang pinggulnya dengan cepat, memutar, naik-turun. Tak lama kemudian tubuhnya mengejang hebat.
Delwin tak memberi waktu istirahat. Ia membalik tubuh Michie ke posisi doggystyle. Tanpa aba-aba, ia menghentakkan penisnya masuk dalam satu kali dorongan kuat hingga pangkal.
“AAHHH!” Michie mengerang keras, wajahnya terbenam di bantal.
Delwin menggenggam pinggul putrinya dan menusuk dengan tempo cepat dan kuat. Suara plok-plok-plok daging bertabrakan memenuhi kamar.
Michie malah semakin keenakan mendengar makian itu. “Iya… Michie slutnya Papi… pelacur Papi… kentot Michie lebih keras, Pi!”
Delwin membalik Michie lagi ke posisi missionary. Ia menindih putrinya, kakinya ditarik lebar, lalu menggenjot dengan dalam dan brutal. Setiap hantaman membuat payudara Michie bergoyang liar.
“Slut… anak binal… godain Papi terus sampe Papi nggak tahan…”
Michie memeluk leher Delwin, kakinya melingkar kuat di pinggul papinya. Saat Delwin sudah di ambang orgasme dan mau mencabut, Michie justru menahan pinggulnya dengan kedua kakinya dan memeluk leher Delwin erat.
“Michie… nggak boleh… bahaya…” Delwin berusaha menahan, tapi Michie semakin erat memeluknya.
“Cum inside… please, Papi… Michie mau hamil sama penis Papi…!” bisik Michie genit dan putus asa karena nafsu.
Delwin akhirnya menyerah total. Dengan erangan panjang dan dalam, ia mendorong penisnya sejauh mungkin dan menyemburkan sperma panasnya berkali-kali ke dalam rahim Michie.
“Ughhh… ambil semuanya…!”
Michie orgasme lagi bersamaan, tubuhnya kejang hebat, vaginanya memerah dan berdenyut menyedot setiap tetes sperma papinya.
Mereka berdua tergeletak lemas, napas tersengal, keringat bercampur. Sperma Delwin perlahan keluar dari vagina Michie yang masih berdenyut.
Mereka berdua masih tergeletak di kasur Michie, napas tersengal, tubuh basah keringat. Sperma Delwin masih menetes pelan dari vagina Michie yang merah dan bengkak. Tapi Michie belum puas sama sekali.
Ia bergeser naik, menindih dada Delwin sambil menggesek-gesek vaginanya yang licin ke perut papinya. Matanya masih penuh nafsu.
“Papi… belum cukup,” bisiknya genit sambil menjilat leher Delwin. “Michie masih mau lagi. Ronde dua ya, Pi…”
Delwin menghela napas berat, penisnya yang masih setengah keras langsung bereaksi lagi mendengar suara manja putrinya. “Michie… sudah cukup. Nanti Mommy bangun—”
Michie tersenyum nakal dan menggigit cuping telinga papinya. “Michie punya syarat. Kalau mau ronde dua, Michie mau di dapur.”
Delwin langsung membelalak. “Gila! Nggak. Terlalu berisiko. Kalau Mommy bangun dan turun—”
Michie menatap Delwin dengan tatapan binal yang tajam dan penuh ancaman. Bibirnya melengkung, matanya menyipit genit sambil tangannya meremas penis papinya pelan.
“Kalau Papi nggak mau… besok pagi Michie cerita ke Mommy semua. Mulai dari meeting tadi siang, sampe Papi creampie Michie tadi. Papi mau?”
Delwin terdiam lama. Nafsunya dan ketakutannya bertarung. Akhirnya ia pasrah dengan erangan frustrasi. “Dasar anak setan…”
Michie tersenyum penuh kemenangan. Ia turun dari kasur, masih memakai lingerie merah yang sudah robek di bagian bra, lalu berjalan ke pintu dengan bokong bergoyang menggoda.
Mereka berdua turun ke dapur dengan langkah hati-hati. Hanya lampu kecil di atas kitchen island yang menyala temaram.
Michie langsung membelakangi Delwin, meletakkan kedua tangannya di meja kitchen island, lalu mengangkat bokongnya tinggi-tinggi. Hotpants dan celana dalamnya sudah diturunkan hingga mata kaki. vaginanya yang masih penuh sperma dari ronde pertama terpampang jelas, mengkilap dan menggoda.
Delwin mendekat, penisnya sudah keras kembali. Ia memegang pinggul Michie dan mendorong kepala penisnya perlahan ke dalam vagina putrinya yang licin dan panas.
“Ngghh… pelan… gede banget…” Michie menutup mulutnya dengan tangan, matanya terpejam keenakan.
Delwin mulai menggenjot dengan ritme sedang, tangannya meraih ke depan dan meremas payudara Michie yang bergoyang-goyang. Setiap hantaman membuat suara basah pelan terdengar di dapur yang sepi.
Michie menggigit tangannya sendiri untuk menahan erangan. “Ahh… Papi… lebih dalam…”
Karena desakan Michie, Delwin mempercepat gerakannya. Pinggulnya membentur bokong Michie dengan lebih kuat. Tak lama kemudian, Michie tubuhnya mengejang hebat.
“Hhhmmppphh—!!” Michie squirt keras, cairannya menyembur membasahi lantai dapur dan paha Delwin. Kakinya gemetar hebat.
Tanpa memberi istirahat, Delwin membalik tubuh Michie, mengangkatnya ke atas kitchen island, dan membuka lebar kedua kakinya. Dengan satu hantakan kuat, penisnya masuk hingga pangkal.
“Aaahhh!!” Michie hampir berteriak, tapi Delwin cepat melumat bibirnya rakus, menelan suara putrinya.
Kaki Michie langsung mengunci pinggul Delwin erat, tangannya melingkar di leher papinya. Mereka berciuman liar, lidah saling mengisap sementara Delwin menggenjot dengan cepat dan dalam.
Michie melepaskan ciuman sejenak, napasnya tersengal. “Lebih cepat, Pi… Kentot Michie lebih keras… Michie mau lagi…”
Delwin mengeram dan mempercepat goyangannya seperti binatang. Suara plok-plok-plok daging bertabrakan semakin keras. Meja kitchen island bergoyang pelan mengikuti irama mereka.
Michie menangkup wajah Delwin dengan kedua tangan dan melumat bibirnya lagi dengan rakus, lidahnya menari liar. Tubuhnya mengejang semakin kuat.
“Papi… Michie mau keluar lagi… sama-sama ya… cum bareng…”
Delwin menggenjot semakin brutal. Beberapa detik kemudian, keduanya orgasme bersamaan.
“Ughhh—!!” Delwin mengerang dalam ciuman sambil menyemburkan sperma panasnya yang kedua kalinya jauh ke dalam rahim Michie.
Michie kejang hebat, vaginanya berdenyut-denyut menyedot penis papinya, cairannya squirt lagi meski tidak sebesar tadi.
Mereka terus berciuman rakus selama orgasme, seolah tak mau melepaskan. Setelah gelombang kenikmatan mereda, Delwin mencabut penisnya perlahan. Campuran sperma mereka berdua langsung meluber keluar dari vagina Michie yang menganga, menetes ke meja dapur.
Michie tersenyum lemah, wajahnya puas. Ia mengecup pipi Delwin mesra.
“Malam ini enak banget, Papi… Terima kasih ya.”
Mereka membersihkan lantai dan meja dengan cepat dan diam-diam, lalu naik ke lantai atas. Sebelum masuk ke kamar masing-masing, Michie berbisik sekali lagi:
“Nanti besok malam lagi ya, Papi sayang…”
Delwin hanya bisa menghela napas panjang, tubuhnya lelah tapi pikirannya kacau. Ia tahu, ia sudah terlalu dalam untuk mundur lagi.
If you make a mistake, you can cancel it by pressing the reaction.