Junior21_
2026-06-24 07:10:33
26934文字
Public
 

Step Brother (A.C.) [Request]


Malam itu, rumah mewah dua lantai di kawasan BSD terasa hidup dengan hiruk-pikuk persiapan keberangkatan. Lampu kristal di ruang tamu menyala terang, sementara koper besar milik Shani dan Rey sudah terparkir rapi di dekat pintu masuk.

Shani, ibu Christy yang berusia 42 tahun, tampak anggun dengan dress casual panjang berwarna cream. Ia sedang memeriksa sekali lagi isi tasnya di meja makan. Rey, ayah tiri Christy yang berusia 45 tahun, berdiri di sampingnya sambil memegang tiket pesawat.

“Christy, Raka! Kemari sebentar, Mama dan Papa mau berpamitan,” panggil Shani dengan suara lembut namun tegas.
Christy turun dari lantai atas sambil mengenakan oversized hoodie abu-abu dan celana pendek rumah. Rambutnya yang hitam sebahu masih agak acak-acakan karena baru saja keramas. Di belakangnya, Raka menyusul dengan santai, hanya memakai kaos hitam ketat yang menonjolkan dada dan lengannya yang berotot, serta celana training pendek.

“Kalian berdua baik-baik di rumah ya,” kata Rey sambil memeluk Christy sebentar. “Papa sama Mama ke Bali cuma lima hari untuk dinas. Kalau ada apa-apa langsung telepon Papa.”

Christy tersenyum manis, memeluk ayah tirinya dengan sayang. “Iya, Pa. Christy jaga rumah kok. Kalian berdua hati-hati di sana. Jangan lupa makan, Ma.”

Shani mendekat dan merapikan rambut Christy dengan penuh kasih sayang. “Kamu yang jagain Raka ya, Sayang. Raka masih suka lupa makan kalau lagi main game. Jangan biarin dia makan mie instan terus.”

Raka yang berdiri di samping Christy terkekeh pelan. “Ma, Raka udah gede loh. Bukan anak kecil lagi.”

Christy menoleh ke arah Raka dengan tatapan kakak yang usil. “Gede apanya? Umur 16 tahun masih suka lupa mandi kalau lagi ranked game. Kemarin aja baju kamu bau keringat sampe Christy yang masukin ke mesin cuci.”

Raka menatap Christy dengan senyum miring, ada kilat nakal di matanya yang tidak terlihat oleh orang tua mereka. “Itu kan Kak Christy yang baik hati. Selalu ngurusin adik tirinya yang bandel ini.”
Shani tertawa melihat interaksi keduanya. “Nah, gitu dong. Kalian berdua sudah seperti kakak-adik kandung. Mama senang lihat kalian akur.”

Rey melirik jam tangannya. “Kita harus berangkat sekarang. Taksi sudah nunggu di depan.”

Shani memeluk Christy erat sekali lagi. “Christy, jaga diri ya. Jangan pulang malam. Kalau mau keluar, ajak Raka. Rumah ini besar, jangan sampai sepi.”
“Iya, Ma. Christy janji,” jawab Christy sambil tersenyum.

Kemudian Shani memeluk Raka. “Raka, tolong jagain kakakmu. Jangan bikin ulah. Kalau ada masalah, langsung hubungi Papa.”

“Siap, Ma. Raka akan jagain Kak Christy sebaik mungkin,” jawab Raka dengan nada yang terdengar polos, tapi tangannya yang memeluk Shani sedikit mengepal menahan gejolak dalam dada.

Setelah pelukan perpisahan selesai, Rey dan Shani berjalan menuju pintu. Christy dan Raka mengantar mereka sampai ke teras depan. Malam terasa sejuk, lampu taman menyinari mobil taksi yang sudah menyala.

Sebelum masuk mobil, Rey menoleh lagi. “Raka, jangan ganggu Christy ya. Dia lagi sibuk skripsi.”

Raka tersenyum lebar. “Tenang, Pa. Raka hormat sama Kak Christy.”

Mobil taksi akhirnya melaju meninggalkan halaman rumah. Christy melambai sampai mobil menghilang di tikungan. Begitu lampu mobil taksi lenyap, ia menghela napas panjang dan menutup pintu utama.

“ akhirnya sepi juga,” gumam Christy sambil meregangkan tubuhnya. Hoodie-nya naik sedikit, memperlihatkan sedikit kulit pinggangnya yang ramping.

Raka berdiri di belakangnya, matanya langsung tertuju ke lekuk tubuh Christy. “Kak, lima hari full berdua. Seru ya?”

Christy menoleh sambil tersenyum polos, masih dengan sikap kakak. “Seru apanya? Lo jangan bikin berantakan rumah ya, Ka. Biasanya kalau Mama-Papa pergi, lo malah jadi raja di sini. Main game sampe pagi, baju kotor numpuk. Kali ini Christy yang atur jadwalnya.”

Raka mendekat selangkah, tinggi 175 cm-nya membuat Christy yang 162 cm harus mendongak sedikit. “Iya, Kak. Raka nurut. Kak Christy yang atur semuanya. Mau Kakak masak malam ini? Raka lapar.”

Christy mengangguk dan berjalan menuju dapur. “Boleh. Christy masakin ayam teriyaki sama tumis brokoli ya. Lo bantu siapin bahan-bahannya.”

“Siap, Kak Boss,” jawab Raka sambil tersenyum, tapi matanya terus mengikuti gerakan pinggul Christy yang bergoyang pelan saat berjalan.

Siang harinya, setelah membantu membereskan rumah, Raka naik ke kamarnya di lantai dua untuk bermain game. Christy memilih bersantai di kamarnya sendiri.

Hingga suatu saat, Raka mendengar suara samar dari kamar Christy yang berada di ujung koridor. Desahan pelan napas tersengal erangan tertahan.

Rasa penasaran langsung membakarnya. Dengan langkah diam-diam, ia mendekati pintu kamar Christy yang tidak tertutup rapat. Hanya menyisakan celah sekitar 10 sentimeter.

Dan di balik celah itu, pemandangan yang membuat darah Raka langsung mendidih.
Christy telanjang bulat di atas tempat tidur king size-nya. Kakinya terbuka lebar ke dua sisi. Satu tangannya meremas payudara montoknya dengan kasar, memilin putingnya yang mengeras. Dua jari tangan lainnya sibuk keluar-masuk cepat dari vagina yang sudah banjir cairan. Matanya terpejam rapat, bibirnya menggigit kuat menahan suara.

“Ahh mmhh lebih dalam ahh fuck” desah Christy pelan, pinggulnya terangkat mengikuti gerakan jarinya sendiri.

Raka merasa penisnya langsung mengeras hebat di dalam celana. Napasnya tertahan. Tanpa pikir panjang, ia mengeluarkan ponsel dari saku, mengaktifkan mode rekam video, dan merekam semuanya dengan jelas. Setiap desahan, setiap gerakan jari Christy, bahkan bunyi basah yang keluar dari vaginanya terekam sempurna.
Hatinya berdegup kencang.

“ Kak Christy selama ini pura-pura polos di depan gue,” gumam Raka dalam hati sambil tersenyum licik. “Besok malam gue bakal pakai ini.”

Malam harinya, sekitar pukul tujuh, aroma masakan menguar dari dapur rumah besar itu. Christy memasak makan malam untuk mereka berdua. Ia mengenakan sport bra hitam ketat yang menonjolkan payudaranya yang montok, ditutup longgar dengan tank top putih tipis yang agak basah karena keringat memasak. Hot pants denim pendeknya memperlihatkan hampir seluruh paha mulusnya yang putih dan padat. Rambutnya diikat asal messy bun, beberapa helai rambut jatuh di leher dan pipinya, membuatnya terlihat sangat menggoda tanpa ia sadari.

Raka turun dari lantai atas setelah bermain game. Begitu melihat Christy dari tangga, ia langsung mematung. Matanya terkunci pada pinggul Christy yang bergoyang pelan saat membalik ikan di wajan. Tank top putihnya menempel di kulit, memperjelas bentuk sport bra dan payudaranya yang naik-turun.

“Raka? Kok bengong di situ?” Christy menoleh sambil tersenyum manis, sikap kakaknya masih sangat natural. “Cepetan duduk, bentar lagi mateng nih. Lapar kan?”

Raka mengerjap, berusaha mengendalikan napasnya. “Iya, Kak bau enak banget. Kakak masak apa?”
“Ayam teriyaki, tumis brokoli, sama tahu goreng kriuk. Duduk dulu, air putihnya udah Kakak siapin.”

Raka mendekat ke meja makan dan duduk. Ia menuangkan air putih untuk Christy terlebih dahulu kebiasaan kecil yang biasanya ia lakukan. Tapi malam ini, gerakannya terasa berbeda. Matanya terus melirik ke arah paha Christy yang terpapar saat ia berjalan mondar-mandir.
Mereka mulai makan. Suasana masih terasa santai seperti kakak-adik biasa.

“Gimana rasanya?” tanya Christy sambil mengunyah.

“Enak banget, Kak. Beneran. Kak Christy masaknya emang juara,” jawab Raka tulus, tapi suaranya sedikit serak. “Mama pergi aja langsung enak gini masakannya. Biasanya kan Mama yang masak.”

Christy tertawa kecil. “Jangan gitu, nanti Mama denger. Lagian lo juga jarang makan di rumah. Kebanyakan jajan atau pesen GoFood.”

Raka tersenyum miring. “Ya iya lah, Kak. Kalau Kak Christy yang masak, Raka mau tiap hari. Besok masak apa lagi?”

“Besok terserah. Lo mau apa? Tapi jangan minta yang ribet ya, Kakak lagi mager.”

Mereka mengobrol ringan selama makan. Christy bercerita tentang skripsinya yang hampir selesai, Raka menceritakan game yang sedang ia mainkan. Sesekali Christy mengingatkan Raka untuk makan sayur, seperti kakak pada umumnya.

“Sayurnya dimakan, Ka. Jangan cuma ayam doang. Lo lagi gym kan? Perlu nutrisi.”

“Iya, Kak Boss,” jawab Raka sambil tertawa. “Kak Christy emang paling cerewet. Tapi gue suka.”

Christy mengangkat alis. “Suka apanya? Cerewetnya?”
“Suka semuanya,” jawab Raka pelan, tatapannya sedikit lebih lama dari biasanya.

Setelah makan selesai, Christy membereskan piring. Raka ikut membantu mencuci piring hal yang jarang sekali ia lakukan.

“Kak Christy capek nggak hari ini?” tanya Raka sambil menyeka tangan dengan lap dapur.

“Biasa aja sih. Lumayan lega orang tua nggak ada. Bisa santai dikit,” jawab Christy sambil tersenyum. “Lo sendiri? Nggak kangen Mama-Papa?”

Raka menggeleng. “Nggak terlalu. Malah seneng berdua sama Kakak aja di rumah.”

Christy tertawa polos, tidak menangkap maksud tersembunyi di balik kata-kata Raka. “Udah gede masih manja. Ayo, kita nonton Netflix bentar.”

Mereka pindah ke ruang tengah. Christy duduk santai di sofa panjang dengan kaki terlipat, memakai selimut tipis di pangkuannya. Raka duduk tepat di sebelahnya, bahu mereka hampir bersentuhan.

Sepuluh menit menonton, Raka tidak tahan lagi. Nafsu yang sudah ia pendam sejak siang meledak.

Tiba-tiba ia mematikan televisi dengan remote, lalu dengan cepat menindih tubuh Christy di sofa.

“Raka!! Apa-apaan sih?!” Christy berteriak kaget, kedua tangannya mendorong dada Raka sekuat tenaga.

Raka mencium bibirnya dengan ganas dan penuh kelaparan. Lidahnya langsung menyusup masuk, melumat bibir Christy dengan brutal. Christy meronta hebat, memukul bahu dan dada Raka berkali-kali.

“Raka! Lepasin!! Lo gila ya?! Ini nggak lucu!” teriak Christy di sela ciuman, suaranya pecah karena panik.

Raka melepaskan ciumannya sebentar. Napasnya tersengal, matanya gelap penuh nafsu yang sudah tidak terkendali.

“Kak maaf” suaranya serak berat. “Gue udah nggak tahan lagi Maaf, Kak Christy Gue udah tahan lama banget. Tiap hari gue ngintip Kakak mandi ganti baju bahkan tadi siang gue liat Kakak masturbasi di kamar.”

Christy membeku, wajahnya memucat seketika. “Apa? Lo lo bohong kan?”
Raka mengeluarkan ponselnya dengan satu tangan, sementara tangan satunya menahan kedua tangan Christy di atas kepala. Ia memutar video rekaman itu. Suara desahan Christy yang vulgar terdengar jelas di ruangan sepi.

“Ahh mmhh lebih cepat ahh fuck
Christy shock berat. Tubuhnya bergetar. “Raka hapus itu please itu privasi gue! Lo jahat banget

Raka meletakkan ponsel di meja, lalu menatap Christy dengan tatapan penuh penyesalan sekaligus nafsu yang membara.

“Maaf, Kak Gue beneran minta maaf,” bisiknya di telinga Christy sambil menciumi lehernya. “Tapi gue emang nggak tahan lagi. Liat Kak Christy tiap hari di depan mata, pura-pura jadi kakak baik padahal badan Kakak sexy banget. Gue pengen banget Maaf, tapi malam ini gue harus punya Kak Christy.”

Christy masih meronta, air matanya mulai turun. “Raka lepasin ini salah kita saudara

Raka mencium bibirnya lagi, kali ini lebih lembut tapi tetap penuh tekanan.
“Maaf, Kak tapi gue nggak bisa berhenti sekarang.”

“Gue hapus videonya tapi Kakak harus nurut malam ini,” bisik Raka di telinga Christy dengan suara serak penuh nafsu. Tangannya yang besar terus mengusap vagina Christy dari luar hot pants dengan gerakan melingkar yang lambat dan menyiksa. “Gue tahu Kakak masih perawan. Gue janji bakal pelan tapi Kakak harus kasih gue kesempatan buat buktiin kalau gue bisa bikin Kakak enak banget.”

Christy masih memberontak lemah, tubuhnya bergetar antara takut dan gelombang aneh yang mulai muncul. “Raka ini salah kita tinggal serumah lo adik gue

“Bukan saudara kandung,” jawab Raka sambil menggigit kecil cuping telinga Christy. “Dan Kakak juga basah kan sekarang? Hot pants Kakak udah lembab gini

Dengan satu gerakan cepat, Raka menarik hot pants Christy turun hingga lutut, lalu melemparkannya ke lantai. Kini Christy hanya mengenakan tank top putih tipis tanpa celana dalam. Raka membuka lebar kedua paha Christy yang mulus, lalu menunduk di antara keduanya.

“Raka jangan ahh!” Christy tersentak saat lidah hangat Raka menyentuh klitorisnya yang sudah membengkak.

Raka menjilat dengan perlahan dan penuh kekaguman. Lidahnya yang datar menjilat dari bawah ke atas, lalu berputar-putar di klitoris Christy dengan gerakan ahli. Sesekali ia mengisap pelan, membuat suara basah yang memalukan terdengar di ruang tengah yang sepi.

“Ahh Raka stop ahh fuck jangan di situ” Christy mengerang, tangannya mencengkeram rambut Raka, antara mendorong kepalanya menjauh dan menekannya lebih dalam.

Raka tidak berhenti. Ia menyelipkan lidahnya ke dalam lubang vagina Christy yang sempit, menjilat dinding dalamnya sambil ibu jarinya menggosok klitoris dengan gerakan cepat. Bau dan rasa Christy membuatnya semakin lapar.

“Perek Kakak enak banget” bisik Raka di sela jilatannya, suaranya basah. “Manis banyak airnya gue bisa jilat seharian di sini. Kakak suka ya kalau dijilat adik tirinya?”

Christy menggeleng kuat, tapi pinggulnya malah terangkat sendiri mengikuti lidah Raka. “Ahh sialan Raka pelan gue gue nggak kuat

Raka menambah dua jarinya, memasukkan perlahan sambil terus menjilat klitoris. Jarinya ditekuk ke atas, mencari titik sensitif Christy dan menggosoknya dengan ritme yang semakin cepat.

“Kak lo lihat? Perek Kakak ngisep jari gue. Ketat banget. Bayangin nanti penis gue yang masuk

Christy akhirnya tidak tahan. Tubuhnya mengejang hebat. Kedua kakinya menjepit kepala Raka. Cairannya menyembur deras ke mulut dan wajah Raka saat ia orgasme pertama kali.

“AAHHH!! Raka ahh gue keluar!!” jerit Christy sambil menangis keenakan, tubuhnya kejang-kejang selama hampir sepuluh detik.

Raka bangkit sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangan, matanya gelap penuh kepuasan. Ia melepas kaosnya, memperlihatkan dada atletis dan perut sixpack-nya. Kemudian ia berdiri dan menurunkan celana pendeknya bersamaan dengan boxer-nya.

penis Raka langsung melompat keluar besar, tebal, panjang 19 cm, berurat menonjol, dan kepala yang mengkilap precum. Pembuluh darahnya terlihat jelas, membuatnya terlihat sangat berat dan mengancam.

Christy membelalakkan matanya lebar, wajahnya pucat ketakutan.

“Ya Tuhan Raka itu itu gede banget” bisiknya dengan suara gemetar. “Nggak mungkin gue masih perawan itu nggak bakal muat Raka please jangan gue takut sakit

Air mata Christy mengalir lagi. Ia mencoba menutup kakinya, tapi Raka sudah berada di antara pahanya.

Raka naik ke atas tubuh Christy, menopang tubuhnya dengan lengan agar tidak menindih sepenuhnya. Ia mencium bibir Christy dengan lembut, kontras dengan ukuran penisnya yang menekan perut Christy.

“Christy dengar gue,” bisik Raka lembut sambil mengusap pipi Christy dengan ibu jari. “Gue sayang Kakak. Gue nggak mau sakitin Kakak. Tapi gue emang udah nggak tahan. Gue bakal pelan-pelan gue janji. Kalau terlalu sakit, Kakak boleh bilang berhenti.”

Christy masih gemetar ketakutan, matanya tak bisa lepas dari penis Raka yang besar. “Raka gue takut itu terlalu besar gue belum pernah please jangan masukin semuanya

Raka menciumi leher Christy dengan penuh kasih, turun ke payudaranya. Ia menarik tank top Christy ke atas, lalu mengisap putingnya pelan sambil jarinya kembali mengusap klitoris Christy yang masih sensitif.

“Ahh Raka mmhh” Christy mendesah lagi, tubuhnya mulai lemas meski ketakutan masih ada.

Raka mengarahkan kepala penisnya yang besar ke lubang vagina Christy yang sudah sangat basah. Ia menggosok-gosokkan pelan di sana, melumasi kepalanya dengan cairan Christy.

“Raka pelan please gue mohon” Christy memohon dengan suara pecah, tangannya mencengkeram lengan Raka erat.

Raka mendorong sangat pelan. Hanya kepala penisnya yang masuk.

“Uhhmm sakit Raka sakit banget” erang Christy sambil mencengkeram lengan Raka lebih kuat, kuku-kukunya menancap di kulitnya.

Raka berhenti total, mencium bibir Christy dalam-dalam, lidahnya menenangkan Christy sambil berbisik, “Maaf maaf ya, Kak. Gue di sini gue pelan-pelan

Ia menunggu Christy agak rileks, lalu dengan satu dorongan mantap tapi terkendali, seluruh 16 cm penisnya masuk hingga pangkal.

“AAHHH!!!” Christy menjerit kesakitan, air matanya mengalir deras. Tubuhnya menegang hebat, merasakan robekan dan penuh yang luar biasa.

Raka diam tak bergerak, menciumi wajah Christy yang basah air mata. “Maaf maaf banget, Kak Christy Sekarang gue udah sepenuhnya di dalam. Perek Kakak panas banget ngisep gue erat sekali

Beberapa menit kemudian, rasa sakit di tubuh Christy mulai memudar, berganti dengan sensasi penuh yang aneh namun semakin nikmat. Raka masih berada sepenuhnya di dalamnya, penisnya yang besar dan tebal terasa berdenyut di dalam vagina Christy yang sangat sempit.

Raka mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang. Setiap dorongan panjang, lambat, dan dalam keluar hingga hampir ujung, lalu masuk kembali hingga pangkalnya menempel rapat di bibir vagina Christy.

“Ahh Raka enak pelan dulu ahh fuck” Christy mengerang, suaranya pecah antara kenikmatan dan sisa rasa sakit. Tangannya mencengkeram bahu Raka erat, kuku-kukunya menancap di kulitnya.

Raka menatap wajah Christy yang memerah dengan mata gelap penuh nafsu. “Kak perek Kakak enak banget gue nggak mau keluar,” bisiknya serak sambil terus menggenjot dengan ritme stabil.

Suara basah ‘plok plok plok’ mulai terdengar pelan setiap kali penis Raka menghantam dalam. Christy menggigit bibir bawahnya kuat, pinggulnya mulai bergerak kecil mengikuti irama Raka tanpa sadar.

“Raka pelan-pelan ya masih masih terlalu besar” mohon Christy dengan suara lemah, matanya setengah terpejam.
Tapi Raka justru mulai mempercepat gerakannya sedikit demi sedikit. Dorongannya semakin kuat, semakin cepat. Suara benturan kulit mereka kini semakin keras dan jelas memenuhi ruang tengah yang sepi.

“Ahh! Raka pelan pelan dulu ahh!” Christy memohon lagi, suaranya naik-turun mengikuti hantaman Raka. Payudaranya yang montok bergoyang liar di balik tank top tipis setiap kali Raka menghantam.

Raka tidak mendengarkan. Ia malah menaikkan satu kaki Christy ke atas bahunya, membuat sudut penetrasi semakin dalam. penisnya kini menghantam titik sensitif Christy dengan lebih keras dan cepat.

“Gue nggak bisa pelan, Kak” erang Raka sambil menggigit leher Christy. “Perek Kakak terlalu enak ngisep gue banget gue mau ngewe Kakak lebih keras.”

“Raka ahh! Pelan please gue masih masih baru ahh fuck!!” Christy menjerit keenakan, tubuhnya bergoyang hebat di sofa. Tapi semakin ia memohon, semakin Raka mempercepat ritme.

Sekarang Raka menggenjotnya dengan tempo cepat dan kuat. Setiap hantaman dalam membuat tubuh Christy terdorong ke belakang di sofa. Suara ‘plak! plak! plak!’ yang keras dan basah bergema di ruangan. Cairan Christy sudah meluber keluar, membasahi penis Raka dan sofa di bawah mereka.

Christy kepalanya mendongak, mulutnya terbuka lebar. “Raka terlalu cepat ahh! Gue gue mau keluar Raka pelan pelan dulu ahh!!”

Raka malah menekan tubuh Christy lebih dalam ke sofa, menghantamnya tanpa ampun. penisnya keluar-masuk dengan kecepatan tinggi, kepalanya menghantam serviks Christy berulang kali.

“Keluar aja, Kak gue mau liat Kak Christy squirt,” bisik Raka kasar di telinga Christy sambil terus menggenjotnya tanpa henti. “Mau keluar kan? Squirt buat adik lo

Christy menggeleng kuat, tapi tubuhnya sudah tidak bisa dikendalikan. Perutnya menegang hebat, kakinya mengejang.

“Raka gue keluar gue mau keluar ahh! Raka AAHHH!!”

Dengan jeritan panjang yang pecah, Christy mencapai orgasme hebat. Tubuhnya mengejang keras, vagina-nya berkontraksi kuat menggenggam penis Raka. Cairannya menyembur deras keluar squirt pertama dalam hidupnya membasahi perut Raka, dada Raka, dan sofa di bawah mereka.

Raka terus menghantam selama Christy squirt, memperpanjang orgasmenya hingga Christy menangis keenakan, tubuhnya kejang-kejang tak terkendali.

Setelah gelombang orgasme Christy mereda, Raka menghentikan gerakannya sejenak. Ia mencium bibir Christy yang basah air mata, lalu tersenyum nakal.

“Kita pindah tempat, Kak,” bisiknya serak.
Tanpa mencabut penisnya yang masih tertanam dalam, Raka mengangkat tubuh Christy dengan mudah. Ia menggendongnya dalam posisi standing full nelson kedua kaki Christy terbuka lebar, penisnya masih terbenam sepenuhnya di dalam vagina Christy yang masih berdenyut.

“Ahh Raka jangan gerak masih sensitif” erang Christy lemah, kepalanya bersandar di bahu Raka.

Raka berjalan menuju tangga sambil sesekali menggoyang pinggulnya pelan, membuat penisnya bergoyang di dalam tubuh Christy. Setiap langkah naik tangga membuat penisnya menghantam dalam lagi.

“Kita lanjut di kamar Kakak malam ini masih panjang,” bisik Raka sambil menciumi leher Christy yang berkeringat.
Christy hanya bisa mendesah lemah, tubuhnya lemas dalam gendongan Raka, cairannya masih menetes-netes di sepanjang perjalanan menuju lantai dua.

Sesampainya di kamar Christy yang luas dan nyaman di lantai dua, Raka tidak membuang waktu. Ia menurunkan Christy dari gendongannya dan langsung membalik tubuhnya ke posisi doggy style. Christy bertumpu pada kedua tangan dan lututnya, bokongnya yang montok terangkat ke atas.

Raka berdiri di belakangnya, memegang pinggul Christy yang lebar, lalu mendorong penisnya yang masih keras dan basah masuk kembali dengan satu hantaman kuat.

“AAHHH!!” Christy menjerit, kepalanya mendongak ke belakang.
Raka langsung menggenjotnya dengan ritme cepat dan kuat. Setiap hantaman membuat bokong Christy bergoyang keras dan memicu suara ‘plak! plak! plak!’ yang memenuhi kamar.

“Raka! Pelan ahh! Gue nggak kuat!!” Christy menangis keenakan, air matanya jatuh ke bantal. Tubuhnya bergoyang maju-mundur hebat setiap kali Raka menghantam.

Raka menampar bokong Christy pelan tapi tegas, meninggalkan bekas merah samar di kulit putihnya.

“Enak kan, Kak? Perek Kakak ngisep penis gue banget,” erang Raka sambil terus menggenjot tanpa ampun. Ia menampar lagi, kali ini sedikit lebih keras di sisi yang lain.

“Ahh! Sakit Raka pelan gue mohon ampun” Christy menangis sambil mengerang, suaranya pecah. Tapi bokongnya malah terdorong ke belakang, seolah meminta lebih.

Raka meraih payudara Christy dari belakang, meremasnya kasar sambil terus menghujam. Jarinya memilin puting yang sudah sangat keras. Ia menunduk, menciumi punggung Christy, lalu naik ke lehernya, menggigit dan menjilat kulitnya yang berkeringat.

“Kak Christy enak banget gue suka banget ngewe Kakak dari belakang,” bisik Raka di telinga Christy sambil meremas payudaranya lebih kuat.

Christy menggeleng lemah, air matanya terus mengalir. “Raka pelan gue capek ahh! Fuck terlalu dalam

Raka menegakkan tubuh Christy tanpa mencabut penisnya. Kini Christy dalam posisi setengah berdiri, punggungnya menempel di dada Raka. Raka merangkul tubuhnya dari belakang, satu tangan meremas payudara kirinya, tangan satunya memegang pinggul sambil terus menggenjot dari bawah.

“Kak gue mau keluar di dalam,” bisik Raka serak di telinga Christy.

Christy panik. “Jangan, Raka! Please jangan creampie gue belum pakai pil jangan dalam keluar di luar aja Raka mohon!!”

Tapi Raka malah mempercepat gerakannya. Hantaman demi hantaman semakin brutal. Suara benturan kulit dan erangan mereka memenuhi kamar.

“Gue mau isi Kak Christy gue mau tembak sperma gue di rahim Kakak” desah Raka.

“Raka jangan ahh! Gue mohon jangan di dalam AAHHH!!”

Christy orgasme lebih dulu. Tubuhnya mengejang hebat, vagina-nya berkontraksi kuat menggenggam penis Raka. Raka mengerang panjang dan menyemburkan sperma panasnya deras ke dalam rahim Christy. Denyut demi denyut, banyak dan tebal, memenuhi Christy hingga meluap keluar dari sela vagina mereka.

Mereka orgasme bersama dengan hebat.
Raka menurunkan tubuh Christy perlahan ke kasur, masih menyatukan tubuh mereka. Ia menciumi wajah Christy yang basah air mata kening, pipi, mata, dan bibirnya dengan penuh kasih sayang.

“Maaf ya, Kak gue kasar tadi,” bisiknya lembut sambil mengusap rambut Christy.
Mereka beristirahat sebentar, saling berpelukan. Tapi baru sekitar dua puluh menit, Raka kembali mengeras di dalam tubuh Christy.

“Malam masih panjang, Kak” bisik Raka sambil tersenyum nakal.
Christy membelalak. “Raka nggak dulu gue capek banget please

Tapi Raka sudah mengangkat pinggul Christy dan memasukkan penisnya lagi dalam satu dorongan. Malam itu mereka melanjutkan dengan berbagai gaya.

Di cowgirl, Christy yang awalnya malu-malu akhirnya mengambil alih. Ia naik ke atas tubuh Raka, menggoyang pinggulnya dengan liar. Payudaranya bergoyang-goyang menggoda di depan wajah Raka.

“Fuck gede banget ngebor perut gue” erang Christy mesum, gerakannya semakin cepat dan dalam. “Raka penis lo enak ahh! Lebih dalem

Raka terkejut sekaligus excited. “Kak Christy ternyata bisa sebinal ini ya? Goyangnya enak banget

Christy semakin liar, tangannya bertumpu di dada Raka sambil menggoyang pinggulnya naik-turun dengan cepat. “Lo yang mulai sekarang lo tanggung jawab ahh! Gue mau keluar lagi

Mereka berganti posisi berkali-kali missionary, spooning, lotus, hingga standing doggy lagi di depan cermin kamar. Christy yang awalnya menolak, semakin lama semakin vokal dan mesum.
Mereka terus bercinta hingga menjelang subuh. Christy sudah kehilangan hitungan berapa kali ia orgasme. Ruangan penuh aroma sex dan keringat mereka.

Akhirnya, setelah pelepasan terakhir yang melelahkan, mereka ambruk di kasur dalam pelukan. Christy tertidur lebih dulu karena kelelahan.

Raka menatap wajah Christy yang lelah tapi puas. Meski nafsunya masih ada, ia tidak tega melihat Christy yang sudah sangat lemas. Ia bangun pelan, membersihkan tubuh Christy dengan handuk hangat yang dibasahi air, membersihkan sisa sperma yang meluber di pahanya dan vagina-nya dengan sangat lembut.

Setelah itu, Raka membawa air mineral dan menyuapkannya pelan ke mulut Christy. Ia memeluk Christy dari belakang, mencium pundak dan lehernya berkali-kali sambil berbisik romantis:

“Kak Christy gue cinta sama Kakak. Bukan cuma pengen ngewe doang. Gue mau rawat Kakak juga. Maaf kalau semalam terlalu kasar.”

Raka menyelimuti mereka berdua dengan selimut tebal, memeluk Christy erat seperti pacar sendiri. Tangannya mengusap punggung Christy pelan, menenangkannya hingga tertidur pulas.

“Tidur yang nyenyak, Kak. Besok pagi gue bikinin sarapan favorit Kakak. Kita masih punya empat hari lagi gue bakal jagain dan sayang Kak Christy dengan benar.”
Christy, dalam setengah sadar, hanya bisa bergumam lemah sambil bersandar di dada Raka:

“Brengsek tapi peluk gue lebih erat
Raka tersenyum dan memeluknya lebih erat, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.

Malam pertama mereka berdua telah berlalu dengan liar, tapi pagi harinya, Raka siap menunjukkan sisi lembutnya sebagai pria yang benar-benar menginginkan Christy.