Gracia dan Bastian tiba di Bandara Ngurah Rai sore hari, matahari mulai tenggelam mewarnai langit Bali dengan gradasi oranye keemasan yang indah. Setelah sampai di villa private di Canggu, mereka hanya butuh waktu singkat untuk menaruh barang. Gracia langsung berganti ke crop top hitam yang memperlihatkan perut rampingnya dan rok pantai krem pendek, sementara Bastian tetap dengan kaos hitam ketat dan celana cargo.
“Langsung jalan yuk, Bas. Pengen lihat pantai sebelum gelap,” ajak Gracia.
Bastian tersenyum, langsung mengambil tas kecil Gracia dari tangannya tanpa diminta. “Biar gue bawa. Lo pegang handphone aja, nanti keburu lowbat.”
Gracia mengangkat alis, tapi tersenyum. “Loh, biasanya juga gue bawa sendiri.”
“Biasanya lo sama cowok lain,” jawab Bastian santai, tapi ada nada lembut di suaranya. “Sama gue, nggak usah.”
Itu hal kecil, tapi Gracia merasakannya. Bastian selalu seperti itu — diam-diam melakukan act of service tanpa diminta. Membukakan pintu, mengambil barang berat, memesankan makanan favoritnya tanpa ditanya, bahkan ingat Gracia tidak suka es batu terlalu banyak di minumannya. Berbeda jauh dengan cowok-cowok yang pernah dekat dengannya, yang biasanya hanya pandai bicara manis di awal, tapi lambat laun egois dan toxic.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju Seminyak Beach. Tinggi Bastian yang 178cm membuat Gracia yang hanya 161cm harus sesekali melangkah lebih cepat. Bastian sadar, jadi ia memperlambat langkahnya dan sesekali menyentuh punggung Gracia pelan saat ada motor lewat, melindunginya secara natural.
Di pantai, mereka duduk di tepi pasir. Bastian membeli dua es kelapa muda dan menyodorkan satu ke Gracia.
“Minum dulu. Lo capek dari perjalanan,” katanya.
Gracia menerimanya sambil tersenyum kecil. “Lo emang selalu gini ya, Bas. Perhatian banget. Kadang gue mikir, kalau lo nggak homo, pasti cewek mana yang nggak jatuh cinta.”
Bastian hanya tersenyum tipis, tidak menjawab.
Malamnya, mereka makan malam di warung pinggir pantai yang romantis dengan lampu-lampu kecil. Duduk berhadapan di meja kayu, angin laut meniup rambut panjang Gracia yang tergerai. Bastian memesankan ikan bakar dan sayur urap karena tahu Gracia suka yang segar.
Saat makan, Gracia tiba-tiba diam. Matanya menatap ombak yang gelap di kejauhan.
Gracia menghela napas panjang. “Gue baru putus sama Raka dua bulan lalu. Lo tahu kan? Cowok yang gue ceritain dulu.”
Bastian mengangguk. “Yang suka marah-marah kalau lo telat balas chat?”
“Iya…” Gracia tertawa pahit. “Awalnya manis banget. Jemput-jemput, kasih hadiah, bilang gue yang paling spesial. Tapi lama-lama… dia mulai ngatur-atur. Larang gue pakai baju pendek, marah kalau gue jalan sama temen cowok — termasuk lo. Pernah gue telat pulang karena kelas tambahan, dia nuduh gue selingkuh. Bahkan sampai ngecek HP gue diam-diam. Tiap gue marah, dia bilang ‘Ini karena gue sayang lo’. Gue capek, Bas. Rasanya gue nggak dihargai sebagai orang, tapi cuma sebagai barang milik dia.”
Gracia menunduk, jarinya memainkan sedotan es kelapa.
Bastian diam sejenak, rahangnya mengeras. Tapi suaranya tetap lembut saat berbicara:
“Lo nggak salah, Gre. Lo cuma pengen dicintai dengan benar. Bukan dicintai dengan cara yang bikin lo takut atau terkekang.”
Ia mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Gracia pelan, ibu jarinya mengusap punggung tangannya dengan gerakan menenangkan.
“Cowok kayak gitu nggak ngerti, kalau sayang itu seharusnya bikin lo tenang, bukan was-was. Seharusnya dia bangga lo punya temen, bukan cemburu buta. Seharusnya dia dengerin cerita lo, bukan langsung marah. Lo pantas dapet yang lebih baik.”
Gracia menatap Bastian lama. Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Kenapa lo selalu ngerti gue banget sih, Bas? Cowok-cowok lain biasanya cuma bilang ‘move on aja’, atau malah ngebela cowoknya. Lo beda. Lo selalu ada, selalu dengerin, selalu notice hal-hal kecil yang gue sendiri kadang nggak sadar. Kadang gue iri sama cowok yang nanti jadi pacar lo… dia beruntung banget dapetin orang kayak lo.”
Bastian tersenyum getir. Tatapannya dalam, ada pergolakan yang tertahan di sana. Tangan yang masih memegang tangan Gracia sedikit menegang.
“Gre…” suaranya rendah. “Gue lakuin semua itu bukan karena gue homo. Gue lakuin karena…”
Ia terdiam cukup lama, seolah kata-kata berikutnya sangat berat untuk dikeluarkan.
“Karena gue peduli sama lo. Lebih dari yang lo tahu.”
Gracia mengerutkan kening, tapi masih mengira itu candaan biasa. Ia tertawa kecil dan menarik tangannya pelan.
“Iya iya, Mr. Best Gay Friend. Untung gue punya lo. Kalau nggak, gue udah gila mungkin.”
Bastian tidak ikut tertawa kali ini. Ia hanya menatap Gracia dengan tatapan yang semakin sulit disembunyikan — campuran antara cinta, hasrat yang tertahan bertahun-tahun, dan rasa sakit karena kebohongan yang sudah terlalu lama ia pertahankan.
Malam itu, di bawah cahaya lampu warung yang temaram, Bastian merasa kebohongannya mulai retak. Dan ia tidak yakin bisa menahannya sampai besok.
Malam kedua di Bali.
Setelah pulang dari club di Seminyak, mereka memutuskan untuk tidak langsung tidur. Gracia mengganti pakaiannya dengan bikini hitam tipis, lalu berendam sebentar di kolam renang infinity. Bastian menyusul tak lama kemudian, hanya memakai celana pendek hitam yang longgar. Tubuh atletisnya yang tinggi 178cm terpapar cahaya bulan, kulit putihnya kontras dengan cahaya taman yang redup.
Mereka duduk berdampingan di tepi kolam, kaki menggantung di air dingin. Gracia menyandarkan kepalanya di bahu Bastian seperti biasa — kebiasaan yang sudah tiga tahun mereka lakukan.
“Bas,” gumam Gracia pelan, “lo beneran nggak pernah tertarik sama cewek? Bahkan sedikit aja?”
Bastian diam lama. Jarinya yang tadinya bermain air kini mengepal di pangkuan. Angin malam meniup rambut panjang Gracia ke wajahnya, membawa aroma shampoo vanila yang selalu ia sukai.
“Gre…” suaranya rendah, berat, dan agak gemetar. “Aku bohong selama ini.”
Gracia tertawa kecil, masih mengira itu lelucon. “Iya, iya. Lo homo level dewa. Tiap gue cerita cowok, lo malah kasih analisa lebih tajam dari gue sendiri.”
Bastian menarik napas dalam. Tangan besarnya pelan menyentuh paha Gracia, bukan dengan nafsu, tapi dengan kelembutan yang membuat Gracia sedikit terkejut.
“Aku nggak homo,” katanya tegas, suaranya serak. “Aku cinta sama lo, Gre. Bukan sekedar suka. Dari semester tiga, pas lo pertama kali duduk di sebelah gue di kelas Statistik. Lo nangis karena putus sama cowok lo yang pertama, dan gue… gue cuma bisa peluk lo sambil pura-pura bilang ‘cowok itu brengsek’. Padahal yang gue rasain saat itu adalah iri. Ingin jadi cowok yang lo nangisin, bukan cuma yang lo peluk pas lagi patah hati.”
Gracia mengangkat kepalanya dari bahu Bastian. Senyumnya perlahan memudar.
“Bas… stop. Ini nggak lucu.”
“Aku nggak lagi bercanda.” Bastian menatapnya dalam, mata sipitnya penuh emosi yang selama ini ia pendam. “Setiap kali lo cerita tentang cowok-cowok toxic itu, gue dengerin sambil nahan sakit. Gue yang selalu jemput lo pas lo ditelantarin, gue yang nemenin lo makan malam pas lo sedih, gue yang ingetin lo minum obat pas lagi sakit. Gue lakuin semua itu bukan karena gue temen baik. Gue lakuin karena gue pengen jadi satu-satunya cowok di hidup lo.”
Gracia terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia mulai merasakan getaran yang aneh di dada.
“Lo… serius?” bisiknya.
Bastian mengangguk pelan. Tangannya kini naik ke pipi Gracia, mengusapnya dengan ibu jari penuh kasih sayang.
“Gue takut kehilangan lo, makanya gue bohong. Gue takut kalau gue ngaku, lo bakal menjauh. Tapi malam ini… gue nggak kuat lagi pura-pura.”
Ia mendekatkan wajahnya perlahan, memberi Gracia waktu untuk menolak. Saat bibir mereka hampir bersentuhan, Bastian berbisik:
“Boleh gue cium lo, Gre? Bukan sebagai temen. Tapi sebagai cowok yang udah gila sama lo selama tiga tahun.”
Gracia hanya bisa mengangguk kecil.
Bastian menciumnya. Awalnya lembut, penuh perasaan, lidahnya menyusup pelan, mengecap setiap inci mulut Gracia dengan penuh kerinduan. Tapi semakin lama, ciuman itu semakin dalam dan lapar. Tangannya yang besar merangkul pinggang ramping Gracia, menariknya hingga duduk di pangkuannya di tepi kolam.
“Bas… ini gila…” desah Gracia di sela ciuman, napasnya tersengal.
“Gila karena gue cinta lo,” jawab Bastian serak. “Gue pengen bangun tiap pagi liat lo di sebelah gue. Gue pengen yang peluk lo tiap malam cuma gue. Gue pengen lo lupa semua cowok brengsek itu.”
Ia menggendong Gracia dengan mudah, membawanya masuk ke kamar utama villa tanpa melepaskan ciuman. Tubuh Gracia dibaringkan di kasur dengan lembut — kontras dengan nafsu yang membara di matanya.
Bastian menindihnya perlahan, menciumi lehernya dengan penuh kasih sambil berbisik, “Lo boleh marah, boleh tolak gue… tapi tolong izinin gue nunjukin betapa gue sayang lo malam ini.”
“Maafkan aku, sayang,” Bastian menurunkan tali bikini Gracia dengan mulutnya, lidahnya menjilat putingnya yang mengeras dengan lembut lalu mengisapnya pelan-pelan. “Fuck… lo enak banget. Gue udah bayangin ini ribuan kali.”
Bastian menurunkan bikini bawah Gracia dengan hati-hati, lalu menciumi perutnya turun ke bawah. Ia mencium paha dalam Gracia dengan penuh kekaguman sebelum lidahnya menyentuh klitorisnya yang sudah basah.
“Gue mau jilat perek lo sampe lo gemetar,” bisiknya vulgar tapi penuh kasih. “Biar lo tahu, penis gue ini cuma buat lo.”
Gracia mengerang keras saat lidah Bastian bekerja dengan ahli, menjilat, mengisap, dan menyelip masuk ke dalamnya. Bastian menambah dua jari, menggerakkannya pelan sambil terus menjilat.
“Bas… ahh… gue mau… gue mau penis lo…” pinta Gracia akhirnya, suaranya pecah.
Bastian naik, melepas celana pendeknya. penisnya yang besar, tebal, dan berurat melompat keluar, sudah sangat keras dan basah di ujungnya.
Ia menggesekkan kepala penisnya di bibir vagina Gracia yang licin, bolak-balik dengan gerakan menggoda.
“Bilang dulu, Gre,” bisiknya di telinga Gracia sambil menatap matanya dalam. “Bilang lo pengen gue masukin. Bilang lo pengen jadi milik gue malam ini.”
Gracia menggeliat, pinggulnya terangkat mencari penis Bastian.
“Masukin… please, Bastian… gue pengen penis lo yang gede ini… ngewe gue pelan-pelan dulu… gue mau ngerasain lo…”
Dengan dorongan pelan tapi mantap, Bastian memasukkan seluruh penisnya hingga pangkal. Gracia menjerit pelan, kuku-kukunya mencakar punggung Bastian.
“Fuck… lo sempit dan panas banget, sayang,” erang Bastian. “Perek lo ngisep penis gue kayak nggak mau lepas.”
Ia mulai bergerak pelan, dalam, dan penuh perasaan. Setiap dorongan diiringi ciuman di bibir, leher, dan payudara Gracia. Tangan Bastian menggenggam tangan Gracia di atas kepala — act of service yang lembut di tengah persetubuhan panas.
“Lo milik gue sekarang,” bisiknya vulgar tapi romantis. “penis ini bakal isi lo tiap malam selama di Bali. Gue mau lo hamil sama gue… gue mau lo nggak bisa bayangin cowok lain lagi.”
“Ahh! Bastian… lebih dalam… fuck me lebih dalam…” Gracia mendesah mesum, kakinya melingkar erat di pinggang Bastian.
Bastian mempercepat sedikit, tapi tetap penuh kontrol. Ia membalik Gracia ke posisi doggy, tapi kali ini tangannya memeluk perut Gracia dari belakang dengan lembut, bukan menarik rambut kasar. Ia menghantam dalam sambil menciumi punggung dan bahu Gracia.
“Bilang lo suka penis gue,” desaknya di telinga Gracia.
“Gue suka… gue suka banget penis lo… lebih gede, lebih tebal dari cowok-cowok gue dulu… ahh! Lo bikin gue gila…”
Bastian menampar pantat Gracia pelan dua kali, lalu kembali memeluknya erat. Saat Gracia orgasme pertama, tubuhnya kejang hebat, Bastian terus bergerak pelan, menemani gelombang kenikmatannya sampai habis.
Baru setelah itu ia membalik Gracia lagi ke missionary. Matanya penuh cinta saat menatap wajah Gracia yang memerah.
“Aku cinta kamu, Gracia,” bisiknya tulus di sela-sela dorongan. “Bukan cuma pengen ngewe. Gue pengen semuanya sama lo.”
Gracia, yang sudah lemas karena orgasme, memeluk leher Bastian erat.
“Aku juga… Bastian… jangan berhenti… isi aku…”
Dengan dorongan yang semakin dalam dan cepat, Bastian akhirnya meledak. Sperma panasnya menyembur kuat-kuat ke dalam rahim Gracia, berdenyut lama sambil ia mengerang nama Gracia di telinganya.
Mereka berpelukan erat setelahnya, keringat bercampur, napas tersengal. Bastian mencium kening, pipi, dan bibir Gracia berkali-kali dengan lembut.
“Maaf udah bohong selama ini,” bisiknya.
Gracia tersenyum lemah, tangannya mengusap dada bidang Bastian.
“Lo emang brengsek… tapi lo brengsek yang paling gue suka.”
Bastian tertawa pelan dan menciumnya lagi.
“Masih ada tiga malam lagi di Bali, sayang. Dan gue belum selesai nunjukin betapa gue cinta sama lo.”
Sinar matahari pagi menyusup lembut melalui tirai tipis kamar utama. Gracia terbangun dengan tubuh telanjang yang masih lelah, terbungkus pelukan Bastian yang hangat. Kepalanya bersandar nyaman di dada bidang Bastian yang naik-turun pelan. Tangan kanannya memeluk pinggang Bastian erat, seolah takut semuanya akan hilang kalau ia melepaskan.
Gracia menggigit bibir bawahnya. Kenangan semalam masih terasa sangat nyata — rasa Bastian yang begitu dalam, erangannya yang serak, dan kata-kata kasar yang penuh kepemilikan. Tapi pagi ini, semuanya terasa seperti mimpi.
“Bas…” bisiknya pelan, suaranya masih serak karena semalam. “Semalam… itu beneran terjadi, ya?”
Bastian yang sudah bangun lebih dulu, mengusap punggung Gracia dengan lembut. Jarinya menelusuri tulang belakangnya naik-turun dengan penuh kasih sayang.
“Iya, sayang. Itu beneran,” jawabnya pelan, suaranya dalam dan tenang. Ia menunduk, mencium puncak kepala Gracia. “Dan gue nggak nyesel sedikit pun.”
Gracia mengangkat wajahnya, menatap Bastian dengan mata yang masih penuh keraguan. “Gue masih nggak percaya… Lo yang selama ini gue anggap ‘best gay friend’ tiba-tiba… ngewe gue sampe gue nggak bisa jalan lurus. Rasanya kayak mimpi. Atau lo lagi iseng?”
Bastian tersenyum lembut. Ia membalik tubuh mereka pelan hingga Gracia berada di atasnya. Tangan besarnya memegang pinggang ramping Gracia dengan penuh kelembutan.
“Kalau ini mimpi, gue juga nggak mau bangun,” katanya sambil menatap mata Gracia dalam-dalam. “Tapi ini nyata. Lo yang gue peluk sekarang ini nyata. Perek lo yang masih agak bengkak karena penis gue semalam juga nyata.”
Bastian tertawa kecil, lalu mendekatkan wajahnya. Morning kiss mereka dimulai dengan sangat lembut. Bibir Bastian menyentuh bibir Gracia pelan, seolah mengecapnya untuk pertama kali. Lidahnya menyusup masuk dengan sabar, menari pelan dengan lidah Gracia. Ciuman itu lambat, penuh rasa sayang, bukan nafsu kasar seperti semalam. Bastian menciumnya seolah Gracia adalah sesuatu yang paling berharga.
Setelah ciuman panjang itu berakhir, Bastian menempelkan keningnya ke kening Gracia.
“Lo nggak sakit kan semalam?” tanyanya lembut, penuh perhatian. “Gue agak kasar di tengah-tengah. Maaf ya… gue terlalu menahan diri selama tiga tahun.”
Gracia menggeleng kecil, tersenyum malu. “Sedikit pegel… tapi enak. Lo… perhatian banget pagi ini.”
“Itu karena gue sayang lo,” jawab Bastian. “Gue mau jagain lo. Bukan cuma pas lagi horny.”
Ia tiba-tiba bangkit duduk, lalu dengan mudah menggendong Gracia ala bridal style. Tubuh kecil Gracia yang 161cm terasa ringan di pelukannya.
“Bas! Turunin, gue bisa jalan sendiri!” protes Gracia sambil tertawa kecil, tapi tangannya malah melingkar di leher Bastian.
“Act of Service pagi ini,” balas Bastian sambil tersenyum. “Lo masih lemes dari semalam. Biar gue yang bawa.”
Ia membawa Gracia masuk ke kamar mandi mewah villa yang luas, dengan cermin besar di depan wastafel dan shower terbuka menghadap taman.
Bastian menurunkan Gracia di depan cermin, berdiri di belakangnya. Tubuh tinggi atletisnya (178cm) menjulang di belakang tubuh ramping Gracia. Mereka saling pandang melalui pantulan kaca.
Untuk beberapa detik, hanya ada keheningan. Hanya suara napas mereka dan tatapan yang semakin dalam. Bastian memeluk Gracia dari belakang, kedua tangan besarnya melingkar di perut Gracia, menariknya hingga punggungnya menempel di dada Bastian.
“Lihat kita,” bisik Bastian di telinga Gracia, suaranya rendah dan seksi. “Lihat betapa pas kita berdua.”
Gracia menatap pantulan mereka. Wajahnya memerah. Bastian mengecup bahu kirinya pelan, lalu bahu kanan, lalu naik ke leher. Ciumannya lambat, basah, dan penuh kerinduan. Setiap kecupan terasa seperti penyembahan.
“Bas…” desah Gracia pelan saat Bastian menggigit kecil cuping telinganya.
Tangan Bastian naik perlahan, merangkum kedua payudara Gracia dari belakang. Ia tidak langsung meremas kasar, tapi memijatnya dengan lembut, ibu jarinya mengusap puting yang sudah mengeras.
“Payudara lo pas banget di tangan gue,” bisiknya vulgar tapi romantis. “Semalam gue pengen banget ngisep ini lama-lama… sekarang boleh?”
Gracia mengangguk kecil, napasnya mulai memburu. Bastian menunduk, menciumi pundaknya lagi sambil tangannya terus memainkan payudara Gracia. Ia memutar tubuh Gracia menghadapnya, lalu menunduk untuk mencium payudara kirinya. Lidahnya berputar pelan di sekitar puting, mengisapnya dengan lembut sambil tangan kanannya meremas payudara yang satunya.
Bastian mengangkat wajahnya sejenak, menatap Gracia melalui cermin di samping mereka.
“Gue mau mandiin lo pagi ini,” katanya lembut. “Terus gue mau bikin lo orgasme lagi… pelan-pelan. Biar lo percaya bahwa semalam bukan cuma sekali malam doang. Gue serius sama lo, Gre.”
Gracia menatap Bastian dengan mata berkaca-kaca campuran antara ragu dan jatuh cinta.
“Lo bikin gue takut… takut ini terlalu bagus buat jadi kenyataan,” bisiknya.
Bastian mencium bibirnya lagi, dalam dan penuh janji.
“Maka dari itu, biarin gue buktiin setiap hari selama kita di Bali. Mulai dari sekarang.”
Tangan Bastian turun perlahan, menyentuh selangkangan Gracia. Jarinya mengusap bibir vagina yang sudah mulai lembab dengan gerakan sangat lambat.
“Kenapa? Lo suka kan?” Bastian menggigit kecil cuping telinga Gracia sambil memasukkan satu jari perlahan ke dalamnya. “Fuck… lo emang basah. Masih ada sisa sperma gue di dalam sini ya? Perek lo belum mau lepas penis gue semalam.”
Gracia mengerang pelan, kepalanya bersandar ke dada Bastian. “Lo brengsek… iya, masih ada… gue masih ngerasa penuh…”
Bastian menambah satu jari lagi, menggerakkannya perlahan sambil ibu jarinya menggosok klitoris Gracia dengan gerakan melingkar yang menyiksa. Foreplaynya sangat lambat, sengaja membangun api perlahan.
“Bilang ke gue, Gre,” bisiknya serak di telinga Gracia sambil mereka saling pandang lewat cermin. “Bilang lo pengen penis gue lagi. Bilang lo mau gue isi lagi sampe penuh.”
Gracia menggeliat, napasnya mulai memburu. “Gue… ahh… gue pengen penis lo, Bas… tapi pelan-pelan… gue masih sensitif…”
Bastian mencium lehernya dalam-dalam, meninggalkan jejak merah kecil. “Bagus. Gue mau nikmatin lo pelan-pelan pagi ini. Gue mau lo ngerasain setiap senti penis gue yang masuk ke dalam perek lo yang manis ini.”
Ia memutar tubuh Gracia menghadapnya, lalu mengangkatnya ke atas meja wastafel dengan mudah. Gracia duduk di sana dengan kaki terbuka, Bastian berdiri di antaranya. penisnya yang sudah keras dan tebal berdiri tegak, ujungnya basah oleh precum.
Bastian memegang penisnya dan menggesek-gesekkan kepalanya di bibir vagina Gracia yang licin, naik-turun tanpa memasukkan, hanya menggoda.
“Lo lihat ini?” katanya sambil menatap mata Gracia. “penis gue gede banget buat badan kecil lo. Tapi lo selalu muat semuanya. Lo emang dibikin buat gue.”
Gracia mendesah frustrasi, pinggulnya maju mencoba menelan penis Bastian. “Masukin dong… jangan godain terus… gue pengen ngerasain lo dalam-dalam…”
Bastian tersenyum puas. Ia mendorong pelan, hanya kepala penisnya yang masuk. Gracia mengerang keras, tangannya mencengkeram bahu Bastian.
“Pelan… ahh! Besar banget… pelan dulu, Bas…”
Bastian bergerak maju perlahan, senti demi senti, hingga seluruh penisnya tenggelam dalam vagina Gracia yang rapet. Ia berhenti sejenak, membiarkan Gracia menyesuaikan.
“Fuck… lo masih sesempit semalam,” erang Bastian. “Perek lo ngisep gue banget. Kayak nggak mau lepas.”
Ia mulai bergerak lambat, dorongan panjang dan dalam. Setiap kali keluar-masuk, suara basah mereka terdengar jelas di kamar mandi yang sepi. Bastian memeluk Gracia erat, satu tangan di punggungnya, satu tangan meremas payudaranya sambil menciumi bibirnya.
“Lo suka gini?” bisik Bastian di sela ciuman. “Suka penis gue ngebor perek lo pelan-pelan gini? Suka gue isi sampe rahim lo?”
“Iya… suka… ahh! Lebih dalam lagi, Bas… fuck me pelan tapi dalem…” Gracia mendesah mesum, kakinya melingkar di pinggang Bastian.
Bastian memperdalam ritme, tapi tetap lambat dan sensual. Ia menatap mata Gracia terus-menerus sambil menggenjotnya.
“Gue cinta lo, Gre. Gue mau lo hamil sama gue. Gue mau tembak sperma gue dalam-dalam tiap pagi kayak gini. Lo mau kan? Mau gue creampie lagi?”
Gracia mengangguk hebat, tubuhnya sudah gemetar. “Mau… isi gue… tembak sperma lo banyak-banyak di dalam… gue mau penuh sama lo…”
Bastian mempercepat sedikit, tapi tetap penuh kontrol. Tangannya turun ke klitoris Gracia, menggosoknya cepat sambil terus menghantam dalam.
“Cum buat gue, sayang. Biar perek lo kejang ngisep penis gue.”
Gracia orgasme lebih dulu. Tubuhnya mengejang hebat, cairannya menyembur membasahi penis Bastian. Ia menjerit nama Bastian sambil mencakar punggungnya.
Bastian tidak berhenti. Ia terus menggenjot dengan ritme yang semakin dalam hingga akhirnya ia mengerang panjang.
“Gue keluar… gue isi lo… terima semuanya, Gre!”
Dengan dorongan terakhir yang sangat dalam, Bastian menyemburkan sperma panasnya kuat-kuat ke dalam rahim Gracia. Denyut demi denyut, banyak dan tebal, memenuhi Gracia hingga meluap sedikit di pinggir vagina.
Mereka berpelukan erat di atas wastafel, napas tersengal-sengal. Bastian masih berada di dalam Gracia, penisnya berdenyut pelan mengeluarkan sisa sperma.
Ia mencium kening Gracia lembut, lalu bibirnya.
“Pagi yang bagus, sayang,” bisiknya sambil tersenyum. “Gue cinta lo.”
Gracia tersenyum lemah, tubuhnya masih gemetar. “Lo emang brengsek… tapi gue juga cinta lo, Bas.”
Bastian menciumnya lagi dalam-dalam, penisnya yang masih setengah keras tetap berada di dalam Gracia, seolah enggan keluar.
“Masih ada seharian penuh di Bali… dan gue belum puas sama sekali.”
Setelah mandi bersama yang penuh tawa dan ciuman lembut, Bastian membawa Gracia keluar ke teras villa. Meja sarapan sudah disiapkan oleh staff villa: roti panggang, avocado toast, scrambled eggs, fresh fruit platter, dan dua gelas jus jeruk segar. Angin pagi Bali yang sejuk berhembus, membawa aroma bunga frangipani dan sawah yang hijau.
Gracia duduk di kursi kayu dengan hanya memakai oversized white shirt milik Bastian yang kebesaran di tubuhnya yang 161cm. Rambut panjangnya masih agak basah dan acak-acakan. Bastian, yang hanya memakai celana pendek santai, duduk di sebelahnya — bukan di depan.
Bastian langsung menarik kursi Gracia lebih dekat ke arahnya hingga paha mereka bersentuhan. Ia mengambil piring Gracia dan mulai menyusun sarapan untuknya dengan telaten.
“Avocado toast dulu ya, lo suka yang banyak lemon,” katanya lembut sambil memeras irisan lemon di atas roti. “Terus scrambled eggsnya gue kasih sedikit garam, jangan terlalu asin. Buahnya gue pilih yang manis-manis, biar lo dapet energinya.”
Gracia menatap Bastian dengan mata yang masih penuh keheranan. “Lo selalu ngelakuin ini… tapi sekarang rasanya beda.”
Bastian tersenyum kecil, menyerahkan piring yang sudah rapi ke depan Gracia. “Karena sekarang gue nggak perlu pura-pura lagi. Dulu gue melakukannya sebagai ‘temen’. Sekarang gue melakukannya sebagai cowok yang cinta sama lo.”
Gracia menggigit bibir bawahnya, pipinya memerah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Bastian sebentar sebelum mulai makan.
“Gue masih agak nggak percaya, Bas,” bisiknya pelan. “Semalam gue tidur sebagai temen lo. Pagi ini gue bangun… sebagai cewek lo. Rasanya terlalu cepat, tapi… enak. Hangat. Gue takut ini cuma mimpi dan lo bakal bilang ‘ini cuma liburan doang’.”
Bastian berhenti menyantap sarapannya. Ia memutar tubuh Gracia menghadapnya, lalu mengangkat dagu Gracia dengan jari telunjuknya agar mereka bertatapan.
“Gue nggak main-main, Gre,” katanya serius, suaranya dalam dan tulus. “Gue udah cinta sama lo selama tiga tahun. Setiap kali lo nangis di pelukan gue, gue berharap suatu hari gue bisa peluk lo bukan sebagai temen, tapi sebagai milik gue. Sekarang lo di sini, pakai baju gue, tubuh lo masih ada bekas gue di dalamnya… ini bukan liburan doang. Ini awal dari kita.”
Gracia merasa matanya panas. Ia tersenyum sambil menahan air mata bahagia.
“Gue juga… baru sadar betapa nyamannya ada di sisi lo. Lo nggak pernah bikin gue takut. Lo nggak pernah marah tanpa alasan. Lo selalu ada. Dan sekarang… gue tahu lo juga bisa bikin gue gila di tempat tidur,” tambahnya sambil tertawa kecil, pipinya semakin merah.
Bastian tertawa pelan, lalu mengecup kening Gracia lama. “Gue janji bakal seimbang. Gue bakal kasar kalau lo minta, tapi gue juga bakal sayang lo lembut kayak pagi ini. Setiap hari.”
Ia kembali ke act of service-nya. Menuangkan jus jeruk ke gelas Gracia, lalu menyeka sudut bibir Gracia yang kotor dengan ibu jarinya sebelum menyuapkan satu potong buah mangga ke mulut Gracia.
“Enak?” tanyanya sambil tersenyum.
Gracia mengangguk, matanya berbinar. “Enak. Semuanya enak. Lo… bikin gue jatuh cinta banget pagi ini.”
Bastian menarik Gracia ke pangkuannya, memeluknya dari belakang sambil dagunya bertumpu di pundak Gracia. Mereka berdua menatap hamparan sawah hijau yang diterangi matahari pagi.
“Gue bahagia banget hari ini, Gre,” bisik Bastian di telinga Gracia. “Akhirnya gue bisa peluk lo tanpa takut ketahuan perasaan gue. Akhirnya gue bisa bilang ‘I love you’ tanpa takut kehilangan lo.”
“Gue juga cinta lo, Bastian. Bukan cinta temen lagi. Cinta yang bikin gue pengen tiap pagi bangun di pelukan lo kayak gini.”
Mereka berciuman pelan di teras villa, manis dan penuh janji. Angin Bali seolah ikut merayakan.
Bastian mengusap paha Gracia dengan lembut sambil berbisik, “Makan dulu yang banyak. Nanti siang gue ajak lo ke pantai. Malamnya… gue mau ulang semalam, tapi kali ini lebih lama. Gue mau isi lo lagi sampe lo nggak bisa mikirin apa-apa selain gue.”
Gracia tersenyum nakal, tapi matanya penuh cinta.
“Brengsek. Lo emang nggak homo.”
Bastian tertawa dan memeluknya lebih erat.
“Memang nggak. Gue cuma homo sama lo. Selamanya.”
If you make a mistake, you can cancel it by pressing the reaction.