Junior21_
2026-06-23 21:45:34
34589文字
Public
 

Reward (A.S) [Request]


Matahari kota siang itu terasa begitu terik, membakar aspal di area parkir universitas ternama tempat Adzana Shaliha mengejar gelar sarjananya. Gadis berdarah Palembang yang akrab dipanggil Ashel itu menghela napas panjang sambil memeluk beberapa diktat kuliah yang cukup tebal di dadanya. Di usianya yang masih sangat muda, langkah kakinya tidak seringan mahasiswi lain yang setelah kelas mungkin akan nongkrong di kafe estetis atau berburu takjil dan kosmetik terbaru. Ada beban sekaligus tanggung jawab besar yang menunggunya di rumah, sebuah status baru yang telah ia peluk erat beberapa bulan terakhir: seorang istri, sekaligus ibu sambung.

Sambil berjalan menuju gerbang, ponsel di saku tunik Ashel bergetar pelan, menampilkan sebuah nama yang selalu berhasil membuat sudut bibirnya terangkat otomatis.

"Halo, Assalamualaikum, Mas Fahmi," ucap Ashel pelan setelah menggeser layar ponselnya, berusaha meredam bising suara kendaraan yang lalu lalang di sekitar kampus.
Dari seberang telepon, terdengar suara berat namun meneduhkan milik Fahmi Budiman, suaminya. "Waalaikumussalam, Sayang. Kuliah kamu sudah selesai jam berapa? Ini Mas baru selesai rapat di kantor, rencananya mau langsung jemput kamu kalau kamu sudah senggang."

Ashel melirik jam digital di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul tiga sore. "Ini baru banget keluar kelas, Mas. Kebetulan dosen matkul terakhir tadi agak cepat selesai kelasnya. Mas Fahmi enggak repot kalau harus jemput ke kampus dulu? Bukannya gak searah jalan pulang kantor ya?"

Terdengar tawa kecil dari Fahmi di ujung telepon, sebuah tawa yang selalu berhasil mengikis rasa lelah Ashel setelah seharian mendengarkan teori-teori rumit di kelas. "Sama sekali enggak repot, Ashel. Lagipula, Ribka dari tadi siang di rumah nyariin bundanya terus, katanya kangen mau main masak-masakan sama Bunda Ashel. Kamu tunggu di halte depan gerbang utama ya, Mas jalan ke sana sekarang."

Duduk di bangku halte kampus, ingatan Ashel mendadak terlempar pada momen beberapa bulan lalu sebelum pernikahan mereka digelar. Sebagai anak kedua di keluarganya, keputusan Ashel untuk menerima pinangan seorang duda beranak satu sempat memicu badai kecil di tengah keluarga besar mereka yang memegang teguh tradisi. Kamar tengah rumah orang tuanya saat itu penuh dengan asap teh hangat dan wajah-wajah tegang dari paman dan bibinya yang mempertanyakan masa depannya.

"Ashel, kamu itu masih muda sekali, masa depanmu di kampus masih panjang," ujar sang paman dengan nada berat saat pertemuan keluarga waktu itu. "Apa kamu benar-benar siap langsung mengurus anak kecil yang bukan darah dagingmu sendiri? Mengurus rumah tangga itu bukan cuma soal cinta, apalagi suamimu sudah pernah gagal sekali."

Ashel mengingat betul bagaimana ia menarik napas dalam-dalam, menatap kedua orang tuanya dengan mata yang berbinar penuh keyakinan tanpa ada keraguan sedikit pun. "Ashel tahu Ashel masih muda, Paman, dan Ashel tahu ini enggak akan mudah. Tapi Ashel yakin sama Mas Fahmi, dia laki-laki bertanggung jawab yang bisa membimbing Ashel, dan Ashel tulus menyayangi Ribka seperti anak Ashel sendiri."

Fahmi yang duduk di sampingnya saat itu langsung menggenggam jemari Ashel, lalu menatap orang tua Ashel dengan tatapan paling jujur yang pernah dilihat gadis itu. "Bapak, Ibu, dan seluruh keluarga besar, saya tahu kekhawatiran ini sangat mendasar. Tapi saya berjanji, pernikahan ini tidak akan menghentikan mimpi-mimpi Ashel. Saya yang akan menjamin kuliahnya tetap selesai, dan saya tidak akan membiarkan Ashel berjuang sendirian mengurus Ribka maupun rumah tangga kami."

Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan halte, membuyarkan lamunan panjang Ashel tentang masa lalu. Kaca mobil diturunkan, menampilkan wajah tampan Fahmi yang melempar senyum hangat, namun yang membuat mata Ashel benar-benar berbinar adalah lambaian tangan kecil dari kursi samping kemudi. Di sana, Ribka, balita perempuan berusia dua tahun dengan pipi bulat kemerahan, sedang melonjak kegirangan melihat kedatangannya.

"Bunda! Bunndaaa!" seru Ribka dengan suara cadelnya yang menggemaskan, tangannya menggapai-gapai ke arah luar jendela mobil.
Ashel segera membuka pintu mobil, masuk ke dalam kesejukan AC, dan langsung menyambut tubuh mungil Ribka ke dalam pangkuannya tanpa peduli pada rasa gerah yang sempat menderanya tadi. "Hai anak pinter, anak cantik! Kok ikut Papa jemput Bunda? Tadi di rumah sama Mbak enggak rewel, kan?"

Fahmi memajukan mobilnya perlahan bergabung dengan kemacetan kota sambil sesekali melirik istri mudanya yang sedang sibuk menciumi pipi anaknya. "Enggak rewel sama sekali, Shel. Tapi ya itu, setiap lihat baju atau tas yang mirip punya kamu, dia pasti teriak 'Bunda'. Makanya pas Mas bilang mau jemput kamu, dia langsung buru-buru pakai sepatunya sendiri sampai terbalik."

Ashel tertawa renyah, membenarkan posisi duduk Ribka di pangkuannya sambil merapikan rambut balita itu yang agak berantakan. "Ya ampun Ribka, kangen banget ya sama Bunda? Maaf ya, tadi Bunda harus belajar dulu biar nanti bisa jadi dokter atau sarjana yang hebat buat nemenin Ribka main."

Meskipun segalanya tampak sempurna di permukaan, Ashel tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa ada kalanya naluri mudanya yang bergejolak menuntut ruang. Saat mobil mereka melewati sebuah pusat perbelanjaan besar di tengah kota, Ashel melihat sekelompok remaja putri seusianya sedang tertawa lepas, membawa kantong belanjaan, dan bersiap menonton film bioskop terbaru. Ada secercah rasa iri yang mendadak melintas di sudut hatinya, sebuah kerinduan akan kebebasan tanpa beban yang seharusnya ia miliki di usia awal dua puluhan ini.

Fahmi, yang memiliki kepekaan tinggi sebagai pria yang lebih dewasa, menangkap perubahan raut wajah istri mudanya yang mendadak terdiam menatap keluar jendela. "Shel? Kamu kenapa? Kok tiba-tiba melamun semenjak kita lewat mall tadi? Ada barang yang mau kamu beli atau ada film yang lagi pengen kamu tonton?"

Ashel tersentak kecil, lalu buru-buru menoleh ke arah Fahmi dengan senyum yang sedikit dipaksakan agar suaminya tidak khawatir. "Eh, enggak kok, Mas. Cuma tadi melihat teman-teman kampus yang lagi jalan-jalan aja. Tiba-tiba kepikiran tugas kelompok yang belum selesai dikerjakan buat minggu depan."

Fahmi tersenyum tipis, menggenggam tangan kiri Ashel yang bebas dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap fokus pada kemudi mobil. "Jangan bohong sama Mas, Ashel. Mas tahu kamu pasti kangen pengen main bebas seperti teman-teman seusiamu, kan? Kalau akhir pekan ini kamu mau jalan-jalan sama teman kampusmu, pergi saja. Biar Ribka seharian ini penuh sama Mas, kamu juga butuh waktu untuk dirimu sendiri."
Sesampainya di rumah mereka yang minimalis namun asri, suasana hangat langsung menyambut. Setelah membersihkan diri dan menidurkan Ribka yang kelelahan karena perjalanan jemput-menjemput tadi, Ashel bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Darah Palembang yang mengalir di tubuhnya membuat Ashel cukup cekatan di dapur; malam ini ia memutuskan untuk memasak menu sederhana namun kaya rasa, lengkap dengan sambal khas yang disukai suaminya.

Saat Ashel sedang sibuk memotong sayuran, sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggangnya dari belakang, membuat gadis itu sedikit terlonjak sebelum menyadari aroma parfum maskulin yang sangat ia kenal. "Mas Fahmi! Kaget tahu, ini aku lagi pegang pisau tajam lho, nanti kalau kena tangan bagaimana?" protes Ashel dengan nada manja.

Fahmi menyandarkan dagunya di bahu Ashel, menghirup aroma masakan sekaligus aroma tubuh istrinya yang selalu menenangkan setelah seharian bekerja. "Maaf, habisnya istri Mas ini serius banget masaknya sampai Mas masuk dapur enggak kedengaran sama sekali. Masak apa malam ini, Sayang? Baunya harum banget sampai ke ruang depan."

Ashel membalikkan tubuhnya sedikit dalam kungkungan lengan Fahmi, menatap mata suaminya dengan senyum manis. "Aku masak tumis sayur sama ayam goreng bumbu ketumbar, Mas. Sama ada sambal korek sedikit buat Mas Fahmi. Mas mandi dulu sana, badannya masih bau matahari kantoran tahu!"

Fahmi terkekeh, mengecup kening Ashel dengan lembut sebelum melepaskan pelukannya. "Siap, Nyonya Budiman. Mas mandi sekarang, habis itu kita makan malam sama-sama ya. Terima kasih ya sudah selalu masakin makanan enak buat Mas dan jaga Ribka."

Kehidupan rumah tangga tidak selamanya berjalan mulus seperti jalan tol, dan Ashel mempelajari hal itu dengan cara yang cukup mengejutkan pada jam dua dini hari. Kamar tidur mereka yang tenang tiba-tiba pecah oleh suara tangisan melengking dari kamar sebelah, tempat Ribka tidur. Ashel yang dasarnya memiliki jam tidur remaja yang cukup larut karena sering begadang mengerjakan tugas, langsung terduduk tegak di kasurnya.

"Mas... Mas Fahmi, bangun, Mas. Itu Ribka nangis, suaranya kedengaran beda banget, kayaknya dia sakit," bisik Ashel sambil mengguncang pelan bahu suaminya yang masih terlelap karena kelelahan kerja.
Fahmi membuka matanya dengan berat, namun naluri seorang ayah membuatnya langsung waspada. "Eh, iya? Ribka nangis? Bentar, Mas lihat dulu ya, kamu istirahat aja, Shel."

Namun, Ashel tidak tinggal diam di kasur; ia langsung menyibak selimutnya dan mengikuti langkah Fahmi menuju kamar Ribka. Begitu lampu kamar dinyalakan, mereka melihat tubuh kecil Ribka sedang menggigil di atas kasur dengan wajah yang memerah karena panas tinggi. Ashel langsung menggendong Ribka, mendekapnya erat ke dadanya, dan merasakan sensasi panas yang membakar dari kulit bocah malang itu.

"Ya Ampun, Mas, badannya panas banget! Ini pasti demamnya tinggi sekali, Ribka menggigil begini," kata Ashel dengan nada panik, matanya mulai berkaca-kaca karena ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi anak kecil yang sakit parah di tengah malam.
Fahmi mencoba menenangkan situasi, meraba dahi anaknya lalu menatap Ashel dengan tenang. "Tenang, Ashel, jangan panik dulu. Kamu tolong ambilkan termometer di kotak obat ruang tengah, sama baskom kecil isi air hangat buat kompres. Mas akan siapin mobil kalau-kalau kita harus ke rumah sakit."

Di dalam mobil menuju rumah sakit bersalin dan anak terdekat, Ashel terus memeluk Ribka yang masih merintih lirih, memanggil-manggil namanya dengan suara lemas. Air mata Ashel yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh juga, membasahi khimar instan yang dipakainya terburu-buru sebelum keluar rumah. Naluri keibuannya yang tumbuh secara organik di usia muda benar-benar diuji malam ini, mengalahkan egonya yang biasanya egois sebagai seorang remaja.

"Bunda... sakit... Ribka sakit..." bisik anak itu lirih, menyembunyikan wajah panasnya di ceruk leher Ashel.

Ashel mengusap punggung Ribka dengan penuh kasih sayang, sesekali mengecup pelipis anak itu untuk memberikan rasa aman. "Iya sayang, Bunda di sini, Bunda peluk Ribka terus. Sebentar lagi kita sampai di dokter ya, anak pintar harus kuat, ada Bunda sama Papa di sini."

Fahmi yang sedang fokus menyetir sesekali melirik ke arah kursi sebelah, hatinya bergetar melihat bagaimana tulusnya Ashel mengurus anaknya yang sedang sakit. "Ashel, terima kasih ya. Mas tahu ini pasti berat banget buat kamu, malam-malam begini harus begadang dan panik karena anak yang bukan... ya, kamu tahu maksud Mas."

Ashel menoleh ke arah Fahmi dengan tatapan mata yang tegas di balik sisa air matanya. "Mas, jangan pernah bicara begitu lagi ya. Sejak Ashel bilang 'saya terima' di depan penghulu, Ribka itu sudah jadi anak Ashel juga. Sakitnya Ribka itu sakitnya Ashel juga, jadi Mas enggak perlu berterima kasih untuk hal yang sudah jadi kewajiban aku sebagai ibunya."

Setelah mendapatkan penanganan dari dokter anak di IGD dan diberikan obat penurun panas melalui anus, kondisi Ribka berangsur-angsur membaik dan ia akhirnya tertidur pulas di ruang perawatan. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memancarkan cahaya jingga keperakan menembus jendela kamar rumah sakit. Ashel tampak duduk bersandar di kursi sebelah ranjang pasien, matanya terlihat sangat sembab dan lelah karena sama sekali tidak tidur semalaman.
Fahmi masuk ke dalam kamar membawa dua cup kopi hangat dan beberapa roti yang ia beli dari minimarket rumah sakit, lalu mendekati istrinya yang tampak kelelahan. "Ini minum dulu kopinya, Shel. Kamu pasti capek banget. Oh iya, hari ini kamu ada kelas pagi jam delapan, kan? Biar Mas yang jaga Ribka di sini, kamu berangkat kuliah aja dari rumah sakit."

Ashel menerima cup kopi itu dengan tangan yang sedikit gemetar, menyesapnya perlahan sebelum menggelengkan kepalanya pelan. "Aku mau izin titip absen aja hari ini, Mas. Aku enggak tenang kalau ninggalin Ribka dalam kondisi begini, lagipula hari ini cuma ada satu matkul dan dosennya biasanya maklum kalau ada keluarga yang sakit."

Fahmi duduk di lantai di depan kursi Ashel, mengambil kedua tangan istrinya dan mengecupnya bergantian dengan penuh rasa takzim dan cinta yang mendalam. "Ingat janji Mas dulu di depan orang tuamu? Mas enggak mau pernikahan ini merusak pendidikanmu, Ashel. Kamu berangkat kuliah ya, Mas sudah minta izin cuti ke kantor hari ini khusus buat jaga Ribka. Mas mau kamu tetap jadi mahasiswi yang berprestasi, jangan korbankan nilaimu kalau Mas masih bisa menghandle ini."

Ashel menatap mata suaminya yang penuh dengan ketulusan dan dukungan tanpa batas, menyadari bahwa keputusannya untuk menikah muda dengan seorang duda seperti Mas Fahmi bukanlah sebuah kesalahan, melainkan sebuah berkah terindah dalam hidupnya. "Ya sudah, kalau Mas Fahmi maksa begitu, aku masuk kelas jam sepuluh aja nanti. Tapi janji ya, kalau ada apa-apa sama Ribka atau demamnya naik lagi, Mas harus langsung telepon aku?"

"Janji, Sayang," jawab Fahmi sambil tersenyum manis, membelai pipi Ashel dengan lembut. "Sekarang kamu makan rotinya dulu, habis itu Mas anterin kamu ke kampus."

Kegiatan yang menguras energi fisik dan mental itu kini telah sepenuhnya menjadi rutinitas harian bagi Ashel. Tak jarang, di jam-jam krusial saat tubuhnya sangat membutuhkan istirahat, ia harus terjaga di tengah malam buta. Entah itu untuk meracik sebotol susu hangat dengan takaran yang pas, atau sekadar mendekap dan menenangkan Ribka yang mendadak terbangun sambil menangis histeris karena mimpi buruk.

"Cup, cup, anak pintar... ini susunya sudah siap. Bobo lagi ya sama Bunda," bisik Ashel malam itu dengan suara serak, sambil menepuk-nepuk pelan paha balita tersebut di bawah temaram lampu tidur.

Fahmi yang ikut terbangun karena pergerakan di ranjang segera bangkit dan mengusap pundak istrinya dengan rasa bersalah yang kentara. "Maaf ya, Shel, kamu jadi ikut begadang terus tiap malam. Sini, biar Mas saja yang gendong Ribka kalau kamu sudah terlalu lelah."

Ashel hanya menggeleng lemah sambil memaksakan satu senyuman tipis dalam kegelapan. "Enggak apa-apa, Mas Fahmi. Mas kan besok harus ngantor pagi-pagi sekali, biar aku saja yang urus Ribka sampai dia pulas lagi."

Konsekuensi dari malam-malam yang panjang itu akhirnya harus dibayar mahal oleh Ashel saat pekan Ujian Akhir Semester (UAS) tiba. Ruang kelas yang biasanya riuh kini mendadak sunyi, hanya menyisakan bunyi gesekan pena di atas kertas dan detak jarum jam dinding yang terasa memburu. Di sudut barisan tengah, Ashel duduk dengan kepala yang terasa seberat batu, sesekali di paruh waktu ujian, matanya terpejam dan ia terlelap selama sepersekian detik karena rasa kantuk yang teramat sangat.

"Adzana Shaliha, kamu tidak apa-apa? Wajah kamu pucat sekali," tegur sang dosen pengawas yang berjalan mendekati mejanya setelah melihat Ashel sempat limbung.

Ashel tersentak kaget, mengerjapkan matanya yang memerah lalu buru-buru membetulkan posisi duduknya. "Ah, iya, maaf Bu. Saya tidak apa-apa, hanya sedikit kurang tidur semalam karena ada urusan keluarga."
Teman sebangkunya berbisik pelan setelah dosen berlalu ke depan kelas. "Shel, lu seriusan aman? Itu lembar jawaban lu baru keisi setengah, padahal waktunya tinggal lima belas menit lagi lho."

Hari yang paling ditakuti oleh seluruh mahasiswa akhirnya tiba ketika pengumuman hasil ujian dan IPK total resmi dirilis di portal akademik kampus. Ashel duduk di pojok kamarnya dengan jari-jari yang gemetar hebat saat mengetikkan nomor induk mahasiswa dan kata sandinya. Begitu halaman utama portal terbuka, matanya seketika membelalak lebar dan tubuhnya mendadak lemas tak bertulang melihat deretan angka yang tertera di sana. Nilai-nilainya hancur berantakan, anjlok total dari semester sebelumnya hingga membuat IPK-nya merosot tajam ke titik terendah.

"Ya Ampun... kenapa nilainya bisa seburuk ini? Aku... aku gagal," gumam Ashel lirih, air matanya menetes satu per satu mengenai layar ponselnya yang masih menyala.
Mbak Siti, pengasuh Ribka yang kebetulan lewat di depan kamar, mengetuk pintu yang sedikit terbuka dengan raut wajah cemas. "Mbak Ashel? Ada apa, Mbak? Kok nangis sesenggukan begitu di pojokan kamar?"

Ashel cepat-cepat menghapus air matanya dan mencoba menyembunyikan ponselnya ke balik bantal. "Enggak apa-apa kok, Mbak Siti. Tolong jagain Ribka dulu di bawah ya, Ashel cuma mau istirahat sebentar saja."

Sepulangnya Fahmi dari kantor malam itu, atmosfer di dalam rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Ashel menyambut suaminya di ruang tamu dengan kepala tertunduk dalam, tidak berani menatap langsung sepasang mata meneduhkan milik pria itu. Dengan suara yang bergetar menahan tangis dan tubuh yang masih sedikit lemas, Ashel akhirnya memberanikan diri menyampaikan kabar buruk mengenai hasil studinya semester ini.

"Mas Fahmi... maafkan Ashel, ya. Nilai-nilai ujian Ashel semester ini hancur semua, dan IPK total Ashel anjlok drastis," ucap Ashel pelan, air matanya kembali luruh tak tertahankan.

Fahmi meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu melangkah mendekat dan langsung membawa tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan hangat yang begitu kokoh. "Hei, lihat Mas dulu, Sayang. Tarik napas dalam-dalam dulu, jangan menangis seperti ini sampai sesak."

Ashel meremas kemeja kerja Fahmi dengan sisa kekuatannya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. "Ashel merasa bersalah banget sama Mas... Mas sudah biayain kuliah Ashel, tapi Ashel malah enggak bisa bagi waktu antara mengurus rumah dan belajar."

Fahmi melonggarkan pelukannya, lalu mengusap sisa air mata di pipi istri mudanya dengan ibu jari, sementara suaranya terdengar begitu lembut menenangkan badai di hati Ashel. "Tidak apa-apa, Ashel. Mas tahu betul seberapa keras kamu berjuang semester ini untuk rumah kita, masih ada semester depan dan nilai itu semuanya masih sangat bisa diperbaiki."

Ashel mendongak, menatap wajah suaminya yang sama sekali tidak menunjukkan gurat kemarahan. "Mas... Mas beneran enggak marah sama Ashel?"

Fahmi tersenyum penuh arti, lalu sedetik kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ashel, berbisik dengan nada rendah dan berat yang cukup untuk membuat bulu kuduk gadis itu merinding seketika. "Tentu tidak. Tapi, kalau nilai dan IPK kamu bisa membaik secara drastis di semester depan... Mas janji akan memberikan 'hadiah' yang sangat spesial untuk istri kecil Mas ini."

Kata "hadiah" yang diucapkan dengan penekanan sensual oleh Fahmi sukses memicu reaksi instan pada tubuh Ashel. Dalam sekejap, wajah dan kedua pipinya mengeluarkan semburat merah merona yang sangat kontras dengan wajah pucatnya beberapa menit lalu. Pikiran Ashel yang tadinya penuh dengan ketakutan dan depresi karena nilai yang hancur seketika menguap tanpa bekas, berganti dengan bayang-bayang intim saat ia bergulat manja di atas kehangatan kasur, diiringi desahan-desahan lembutnya bersama sang suami di bawah keheningan malam.

"Mas Fahmi... ih, apaan sih! Kok ngomongnya malah ke situ," cicit Ashel sambil memukul pelan dada Fahmi, berusaha menyembunyikan wajahnya yang kini terasa sangat panas karena salah tingkah.

Fahmi terkekeh melihat reaksi menggemaskan dari istri mudanya, sengaja mencium pucuk hidung Ashel yang merona. "Kenapa? Kamu enggak mau hadiah dari Mas? Makanya, buktikan di semester depan kalau kamu bisa belajar lebih baik lagi."

Ashel menarik napas dalam, membalas tatapan Fahmi dengan sepasang mata yang kini berbinar penuh dengan tekad yang kuat dan membara. "Awas ya kalau Mas bohong! Semester depan Ashel pasti akan belajar lebih giat lagi, Ashel buktikan kalau Ashel bisa dapat IPK tinggi demi hadiah dari Mas Fahmi!"

Bulan-bulan berikutnya dilalui Ashel dengan ritme yang sepenuhnya baru. Setiap kali rasa kantuk menyerang di tengah malam saat mengurus Ribka, atau ketika jemarinya mulai lelah menyalin materi kuliah, ingatan Ashel selalu kembali pada malam itu. Bisikan rendah Mas Fahmi tentang "hadiah" spesial menjadi pemantik api semangat yang tak kunjung padam di dalam dirinya. Ketika pekan Ujian Akhir Semester kembali tiba, Ashel duduk di kursi ujian bukan lagi sebagai mahasiswi yang lunglai, melainkan seorang istri muda yang penuh dengan fokus dan ambisi yang membara.

"Gila lu, Shel, fokus banget dari menit pertama. Lembar jawaban lu sampai penuh begitu," bisik teman sebangkunya, terkagum-kagum melihat pena Ashel yang menari tanpa henti di atas kertas.

Ashel menoleh sedikit, memberikan kerlingan mata yang penuh percaya diri sebelum mengumpulkan berkasnya ke meja dosen. "Harus dong! Kali ini ada target besar yang harus gue capai di rumah, enggak boleh ada drama salah isi lagi kayak semester kemarin."

Di luar kelas, ia langsung mengetik pesan singkat untuk suaminya: Mas, ujian hari pertama lancar jaya! Doakan hari-hari berikutnya ya, jangan lupakan janji Mas.

Hari pengumuman yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba juga. Duduk di ruang tengah rumah mereka sambil memangku Ribka yang sedang asyik mengunyah biskuit, Ashel membuka portal akademik kampus menggunakan ponselnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, ada perpaduan antara rasa gugup yang tipis dan rasa optimis yang membumbung tinggi. Begitu jemarinya mengetuk tombol log in, deretan nilai baru langsung terpampang nyata di layar monitor, membuat napas Ashel sempat tertahan selama beberapa detik.

"Bunda? Kenapa? Bunda kok diam aja?" tanya Ribka kecil, mendongak menatap wajah bundanya yang tampak syok.

Sedetik kemudian, Ashel langsung melompat kegirangan dari sofa, membuat Ribka sedikit terkejut namun ikut tertawa melihat bundanya bersorak. "Mas Fahmi! Nilai aku... nilai aku dapet A semua! IPK-ku naik drastis jauh di atas rata-rata, Ribka!"

Mbak Siti yang sedang menyapu di dekat dapur sampai menjulurkan kepalanya karena kaget mendengar pekikan senang itu. "Syukurlah, Mbak Ashel! Lulus semester ini dengan nilai bagus ya, Mbak? Pasti Pak Fahmi bangga banget nanti pas pulang."

Sore harinya, begitu mendengar suara mobil Fahmi memasuki garasi rumah, Ashel langsung berlari kecil menuju pintu depan. Ia bahkan sengaja meminta Mbak Siti untuk membawa Ribka bermain di taman belakang agar ruang tengah menjadi milik mereka berdua. Begitu Fahmi melangkah masuk dengan setelan kantornya yang masih rapi, Ashel tidak memberikan kecupan tangan biasa; ia langsung menghambur ke pelukan suaminya, mengalungkan kedua lengan indahnya di leher Fahmi sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan angka IPK yang sempurna.

"Mas Fahmi, lihat ini! Janji aku semester kemarin sudah lunas ya, nilainya naik drastis!" seru Ashel dengan nada yang luar biasa ceria.

Fahmi membaca angka di layar tersebut, dan seketika matanya berbinar penuh rasa bangga yang luar biasa besar untuk istri mudanya. "Sayang... ini hebat banget! Mas benar-benar bangga sama kamu, Ashel. Kamu membuktikan kalau kamu bisa."

Namun, bukannya menjawab dengan kata-kata manis, Ashel justru memajukan wajahnya, menempelkan tubuhnya lebih rapat, lalu berbisik dengan nada yang sangat manja tepat di lubang telinga Fahmi, diiringi semburat senyum nakal yang menggoda. "Terima kasih pujiannya, Mas... tapi sekarang, Ashel mau menagih janji 'hadiah' yang waktu itu. Mas enggak lupa, kan?"

Fahmi tertegun sejenak menerima serangan manja yang begitu berani dari istrinya, sebelum sebuah senyuman penuh arti terukir di wajah tampannya. Pria itu menatap dalam-dalam sepasang mata Ashel yang kini berbinar menantang, menyadari bahwa momen inilah yang sebenarnya juga sudah ia persiapkan dan nantikan sejak lama. Tanpa membuang waktu lagi, Fahmi langsung menyusupkan kedua lengannya di bawah lekuk tubuh Ashel, mengangkat dan menggendong tubuh mungil istri mudanya itu dalam satu gerakan tegas yang membuat Ashel memekik tertahan.

"Mas Fahmi! Ih, kaget tahu, main gendong-gendong aja!" tawa Ashel pecah, namun tangannya semakin erat memeluk pundak kokoh suaminya.

Fahmi mulai melangkah lebar membawa Ashel menaiki anak tangga menuju kamar tidur utama mereka di lantai atas, sambil terus mengunci pandangan matanya pada wajah Ashel yang mulai merona merah. "Siapa bilang Mas lupa? Mas justru sudah bersiap untuk memberikan 'hadiah' paling spesial ini sejak kamu mengirim pesan singkat tadi siang, Sayang."

"Janji ya, hadiahnya harus bikin Ashel puas dan enggak boleh setengah-setengah malam ini?" bisik Ashel lagi, menyembunyikan wajahnya yang semakin panas di ceruk leher Fahmi saat pintu kamar mereka perlahan ditutup rapat dari dalam.

Dalam dekapan dan gendongan Fahmi, langkah mereka menuju ranjang tidak dilalui dalam keheningan. Sentuhan fisik yang begitu dekat memicu luapan gairah yang selama beberapa bulan ini tertahan oleh kesibukan. Ciuman yang intim terus mereka lakukan di sepanjang langkah, sebuah pagutan bibir yang dalam dan saling menuntut. Lidah mereka saling beradu, bertukar kehangatan yang kian membakar suasana. Sesekali Fahmi mengalihkan sasarannya, membiarkan bibirnya menjalar perlahan di sekitar leher jenjang Ashel, memberikan kecupan-kecupan kecil yang basah.

"Ah... Mas Fahmi... geli, Mas," desis Ashel tertahan, matanya terpejam erat sementara jemarinya meremas rambut suaminya, menyalurkan sensasi sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Fahmi terkekeh rendah di sela kecupannya, memantapkan langkahnya mendekati ranjang utama. "Ini baru permulaan dari hadiahmu, Sayang. Jangan dilepas dulu pegangannya."

Fahmi menurunkan tubuh Ashel dengan sangat perlahan di atas kasur empuk milik mereka, membiarkan rambut istrinya tersebar di atas bantal. Dengan tatapan yang sudah sayu oleh gairah namun dihiasi senyum seringai nakal yang menggoda, Ashel tidak menunggu lama. Jemari lentiknya bergerak membuka kancing daster satin tipis yang dikenakannya satu per satu, membiarkan kain lembut itu tersingkap. Fahmi yang menatap dengan mata menggelap penuh kekaguman langsung bergerak maju, merangkup kedua payudara Ashel yang masih tertutup bra renda itu dengan gemas.

"Mas... pelan-pelan, ih, gemas banget tangannya," desah Ashel, tubuhnya melengkung sedikit merasakan kehangatan telapak tangan Fahmi yang meremasnya dengan tekanan yang pas.

Fahmi berbisik di depan wajah Ashel, napasnya mulai memburu. "Kamu cantik sekali malam ini, Ashel. Mas benar-benar tidak bisa tahan lagi kalau melihat kamu seperti ini."

Melihat suaminya yang sudah begitu terangsang, naluri kewanitaan Ashel semakin bergejolak. Ia bangkit sedikit dari posisinya, meraih ban pinggang celana kerja Fahmi dan mulai membukanya dengan cekatan namun penuh kehati-hatian. Begitu kain itu tersingkap, kejantanan Fahmi yang sudah berdiri kokoh dan tegang langsung tersaji di depan mata Ashel. Seketika senyum nakal kembali timbul di sudut bibir gadis itu; dengan pandangan mata yang terus terkunci ke arah wajah suaminya, Ashel perlahan mendekat dan langsung melahap ujung kejantanan Fahmi, membiarkan lidahnya menari dengan lihai di bagian kepala penis yang sensitif.

"Akh... Ashel... eemmhh, hisapanmu... nikmat sekali, Sayang," ringis Fahmi, kepalanya mendongak ke atas dengan dahi berkerut menahan sensasi geli sekaligus nikmat yang luar biasa dari permainan mulut istrinya.
Ashel mendongak sekilas tanpa melepaskan pagutannya, memberikan tatapan menggoda yang seolah berkata bahwa ia sangat menikmati kendali ini. "Bagaimana, Mas? Hadiah dari Ashel juga enak, kan?"

Setelah merasa cukup puas bermain-main dan memanjakan suaminya, Ashel melakukan satu gerakan pasti untuk menyingkap sisa pakaian yang masih menggantung di pinggang dan kakinya. Fahmi pun melakukan hal yang sama, menendang celananya asal hingga terlempar entah ke mana. Kini, dengan posisi mengangkang sempurna di atas kasur putih mereka, tubuh polos Ashel membuat Fahmi tersenyum puas. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Fahmi memposisikan dirinya di atas tubuh Ashel dan langsung memasukkan kejantanannya yang tegang ke dalam kehangatan lubang vagina istrinya dengan satu gerakan mantap.

"Oohh... Mas Fahmi! Masuknya dalam banget... ahh," jerit Ashel tertahan, matanya membelalak sesaat sebelum ia meremas kuat punggung bidang Fahmi, membiarkan kuku-kukunya sedikit menekan kulit suaminya.
Fahmi menahan tubuhnya, memberikan waktu agar tubuh muda istrinya terbiasa dengan ukurannya. "Sshh... tenang, Sayang. Rasakan pelan-pelan, Mas akan mulai."

Fahmi mulai menggenjot tubuh Ashel dengan tempo lambat namun menghujam dalam, memastikan setiap inci kehangatan di dalam sana bergesekan dengan sempurna. Ruangan kamar yang sejuk oleh AC kini mulai terasa panas oleh uap gairah. Setiap kali pinggul Fahmi membentur miliknya, Ashel hanya bisa merespon dengan desahan, erangan, dan ringisan kecil yang keluar dari celah bibirnya. Suara desahan yang terdengar sangat manja dan penuh kenikmatan itu menjadi bahan bakar yang membuat Fahmi semakin bersemangat.

"Mas... ahh, di situ... rasanya geli banget, Mas... terusin," rintih Ashel dengan suara parau, kedua tangannya kini beralih meremas seprai kasur di bawah kepala mereka.
Fahmi mengecup kening Ashel yang mulai berkeringat halus. "Mas tahu kamu menyukainya, Ashel. Dengarkan suara desahanmu sendiri, sangat seksi."

Posisi misionaris yang intim itu tidak berlangsung terlalu lama karena Fahmi ingin mengeksplorasi lebih jauh. Dengan cekatan, ia membalikkan tubuh Ashel hingga kini berada dalam posisi menungging sempurna, mempersembahkan keindahan lekuk tubuh belakangnya. Tanpa jeda, Fahmi kembali menyatukan tubuh mereka dari belakang, melakukan posisi doggystyle dan langsung menggenjotnya dengan tempo yang cukup kencang kali ini. Sentakan yang lebih bertenaga itu sukses membuat Ashel semakin mendesah keras, kepalanya terbenam di atas bantal sementara pinggulnya menyambut setiap hantaman.

"Ah! Ah! Mas... cepet banget... akh, I-ini.. enak banget, Mas Fahmi!" seru Ashel terengah-engah, tubuhnya berguncang mengikuti ritme suaminya.

Fahmi meraih ke depan, membawa kedua tangannya untuk menggenggam dan meremas payudara Ashel yang menggantung bebas, menambah sensasi gesekan yang berlipat ganda. "Mas tidak bisa pelan-pelan lagi, Sayang. Di dalam sini menjepit Mas dengan sangat ketat."

Merasa ritme dari belakang terlalu menguras tenaganya, Fahmi kembali mengubah posisi bertarung mereka. Kali ini ia membiarkan Ashel membalikkan tubuh dan naik ke atas tubuhnya, mengambil posisi woman on top. Perubahan posisi ini memberikan kendali penuh pada Ashel untuk menentukan kedalaman dan kecepatan genjotan di lubang vaginanya. Dengan rambut yang acak-acakkan dan keringat yang membasahi dada, Ashel mulai bergerak naik turun, menikmati sensasi luar biasa setiap kali benda kokoh milik suaminya menghujam jauh ke dalam rahimnya.

"Oohh... Mas, ini... dalam banget, Ashel bisa ngerasain semuanya di dalam," desah Ashel dengan mata terpejam, kepalanya mendongak ke belakang saat rasa geli dan nikmat menjalar di setiap inci tubuh mudanya.
Fahmi yang berbaring di bawah hanya bisa mencengkeram pinggang Ashel, membantu menstabilkan gerakan naik-turun istrinya yang begitu berani. "Bagus, Sayang... terus begitu. Kamu hebat sekali malam ini, ahh."

Memasuki menit-menit akhir dari pergulatan panas mereka, Fahmi kembali mengambil alih dominasi. Ia membaringkan Ashel dalam posisi misionaris sekali lagi, mengangkat kedua kaki istrinya ke atas bahunya agar penetrasi menjadi sedalam mungkin. Kali ini, Fahmi menambahkan temponya dengan cukup cepat dan bertenaga. Ashel yang sudah berada di ambang batas kemampuannya mulai merasakan adanya kedut-kedutan kecil yang ritmis dari kepala penis Fahmi di dalam rahimnya, menandakan sang suami pun sudah berada di titik puncak.

"Mas... Ashel sudah mau keluar... ahh, Mas Fahmi, bareng... ah!" jerit Ashel dengan suara yang terputus-putus, tubuhnya menegang hebat dengan desahan yang kian melengking.
Fahmi yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa kedutan dan jepitan dinding vagina istrinya ikut mengerang keras. "Akhhh! Ashel!" Pria itu menumpahkan seluruh cairan sperma hangatnya di dalam rahim Ashel, bersamaan dengan tubuh Ashel yang mengalami orgasme hebat, ikut menyiram batang penis Fahmi di dalam sana dengan cairan kepuasannya.

Detik-detik setelah badai gairah itu berlalu, keheningan kembali menguasai kamar tidur mereka, hanya menyisakan suara napas yang terengah-engah dari kedua sejoli tersebut. Fahmi ambruk, menjatuhkan tubuhnya yang lelah namun puas di atas tubuh mungil Ashel, membiarkan sisa kejantannnya tetap tertanam di dalam sana. Dengan sisa tenaga yang ada, Fahmi menggeser tubuhnya ke samping, memeluk erat pinggang istri mudanya lalu memberikan kecupan-kecupan lembut di pipi Ashel yang masih merona merah.

Fahmi berbisik lirih tepat di telinga istrinya yang masih mengatur napas. "Terima kasih untuk kerja kerasmu di kampus dan di rumah, Sayang. Ini hadiah spesial yang Mas janjikan untuk istri hebatku."

Ashel tersenyum dengan sisa lelahnya, merespon dengan sebuah pelukan hangat yang sangat erat, lalu mengecup bibir Fahmi sekilas dengan rasa senang sekaligus penuh kenikmatan yang mendalam. Di luar kamar, kehidupan terus berjalan, namun di dalam ruangan itu, fondasi cinta keluarga kecil mereka telah semakin kokoh. Dan cerita perjuangan serta kebahagiaan keluarga kecil itu pun berakhir dengan kehangatan yang sempurna.


Writer: D_Kopiitem