Oline Manuel, mahasiswa semester 5 jurusan Psikologi disalah satu Universitas di Indonesia, baru saja pulang dari kampus pukul 22.45 malam. Tas ranselnya berat penuh buku dan laptop. Apartemen kecil di daerah Depok yang ia sewa sendirian terasa semakin pengap malam ini. Hujan deras di luar jendela membuat listrik sering kedip-kedip.
Ia meletakkan tas di sofa, melepas jaket, lalu menghela napas panjang. Kuliah skripsi, organisasi BEM, dan kerja paruh waktu sebagai tutor privat membuat tubuhnya selalu lelah. Orang tuanya di kampung hanya mengirim uang pas-pasan. Sendiri. Selalu sendiri.
Malam ini ia memutuskan mandi air hangat lebih lama. Di bawah guyuran shower, Oline memejamkan mata. Rambut hitam lurusnya yang panjang sampai pinggang basah menempel di punggung yang ramping. Tubuhnya proporsional—payudara sedang tapi kencang, pinggang kecil, bokong bulat yang sering jadi bahan godaan teman-teman cowok di kampus. Tapi Oline bukan tipe yang mudah dekat dengan laki-laki. Ia cuek, fokus kuliah, dan agak pemalu soal hubungan.
Setelah mandi, ia hanya memakai tank top putih tipis tanpa bra dan celana pendek satin hitam. Lampu kamar tidur dimatikan, hanya menyisakan lampu meja kecil. Ia berbaring di kasur, memeluk guling, berusaha tidur.
Jam menunjukkan pukul 01.17 dini hari ketika ia terbangun karena kedinginan. AC mati, tapi suhu ruangan seperti turun drastis. Oline menarik selimut sampai dada. Lalu ia merasakannya—sentuhan pertama.
“Ahh…!” desahnya pelan, setengah mengigau.
Sesuatu yang dingin, seperti ujung jari es, menyusuri pelan betis kanannya. Ia mengira itu hembusan AC yang bocor. Tapi sentuhan itu naik perlahan ke lutut, lalu ke paha dalam. Lambat. Menjelajah. Seperti sedang mengenali bentuk tubuhnya.
“Hhh… siapa…? Jangan…”
Oline mengerjap, jantungnya mulai berdegup kencang.
“Siapa…?” bisiknya pelan.
Tidak ada jawaban. Hanya angin dingin yang menyapu wajahnya. Ia mencoba bangun, tapi bahunya mendadak tertindih sesuatu yang berat—sangat berat—meski tak ada yang terlihat. Tubuhnya tertekan kembali ke kasur. Napasnya tersengal. Dua tangan tak kasat mata merayap di pahanya, meremas kasar.
Sentuhan dingin itu kini ada dua. Dua tangan tak kasat mata merayap di kedua pahanya, meremas pelan daging lembutnya. Oline menggeliat, mencoba menendang, tapi kakinya seolah dipegang kuat di tempat. Jantungnya berdegup keras sampai terasa di tenggorokan.
“Ini… mimpi… pasti mimpi buruk lagi,” gumamnya mencoba menenangkan diri. Tapi rasa dingin yang menusuk tulang itu terlalu nyata.
Tangan-tangan itu semakin berani. Satu tangan naik ke perutnya, mengusap kulit halus di bawah tank top, lalu naik lagi hingga meremas payudaranya dari luar kain. Oline tersentak. Putingnya langsung mengeras karena dingin yang ekstrem. Sensasi aneh—campuran sakit dan geli—menjalar ke seluruh tubuh.
“Jangan… lepasin aku!” Ia berusaha menjerit, tapi suaranya hanya keluar sebagai erangan pelan. Mulutnya tiba-tiba disumpal oleh sesuatu yang dingin dan basah. “Mmmhh—! Mmphh!!” Lidah tak terlihat memaksa masuk, menjilat lidahnya dengan rakus. Rasa amis seperti tanah lembab dan sesuatu yang busuk samar memenuhi mulutnya. Air mata Oline mengalir.
Sambil menciumnya paksa, tangan hantu itu menarik tank topnya ke atas. Payudara Oline terbebas. Dua puting pinknya yang kecil dan sensitif langsung dihisap bergantian. Hisapan itu kuat, dingin membakar. “Aaahhh!! Dingin… ahh—nghh!!”
Oline melengkungkan punggung, tubuhnya menggigil hebat. Setiap hisapan terasa seperti listrik dingin yang menembus sampai ke rahimnya.
“Hah… hah… jangan hisap… terlalu kuat… ahhn!”
Tangan hantu meremas payudara kanannya sambil terus menghisap bergantian. Desahan Oline semakin tak terkontrol. “Uhh… ahh… mmhh—! Sakit… tapi… aneh… hahh!”
Celana pendek satinnya ditarik turun perlahan. Oline meronta, tapi sia-sia. Ia merasakan embusan angin dingin menyapu vaginanya yang masih kering karena ketakutan. Jari dingin mengusap bibir luar vaginanya pelan, memutar di klitoris yang mulai membengkak meski ia tak mau. Gerakan itu lambat, menyiksa, seolah hantu itu sengaja ingin ia merasakan setiap detiknya.
“Hiii…! Jangan di situ… ahh—nghh!!” Tubuh Oline tersentak. “Basah… kenapa aku basah… hahh… stop… please…”
Tapi tubuhnya berkhianat. Cairan hangat mulai merembes keluar saat jari hantu itu memainkan klitorisnya dengan ahli. Dua jari dingin akhirnya masuk perlahan ke dalam vaginanya yang sempit. Oline menjerit. Rasa dingin yang menusuk membuat dinding vaginanya berkedut hebat. Jari itu bergerak keluar-masuk, memutar, mengorek titik-titik sensitif yang bahkan Oline sendiri jarang sentuh.
“Aaaahhhhh!! Terlalu dingin… sakit… nguuuhh!!” Oline menjerit panjang. Dinding vaginanya berkedut hebat menahan invasi dingin itu. Jari itu bergerak keluar-masuk, mengorek titik sensitifnya.
Kenikmatan mulai merayap di balik ketakutan. Ia benci dirinya sendiri karena itu. Setiap kali jari itu menyentuh dinding atas vaginanya, gelombang aneh naik ke perutnya. Pinggulnya mulai bergerak pelan mengikuti irama tanpa sadar.
Hantu itu seolah merasakan perubahan itu. Jari-jarinya ditarik keluar “Hh… jangan keluar…”. Oline sempat merasa kehilangan sesaat—lalu ia merasakan sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih dingin menekan pintu masuk vaginanya.
Kepala kejantanan hantu itu tebal, berdenyut, dan sangat dingin. Ia menggesek-gesek pelan di bibir vaginanya yang sudah basah, melumuri diri dengan cairan Oline.
“Tidak… terlalu besar… aku mohon… aku masih perawan… hahh… jangan masuk…” bisiknya ketakutan.
Tapi hantu itu mendorong masuk perlahan. Centimeter demi centimeter. “NGAAAAAHHH—!! Robek… ahh… sakit… kontolnya dingin sekali… uuuuhhh!!” Oline menjerit histeris. Matanya melotot, air mata bercucuran. Oline merasa vaginanya diregangkan lebar-lebar. Rasa penuh yang menyiksa bercampur dingin yang membakar. Ia menjerit panjang saat kepala kejantanan itu akhirnya masuk sepenuhnya. Hantu itu berhenti sebentar, seolah menikmati getaran dinding vaginanya yang panik.
Kemudian dorongan berikutnya lebih dalam. Lebih kasar. Kontol dingin itu menembus rahimnya. Oline merasa perut bawahnya penuh. “Aaaahhh—!! Dalam… terlalu dalam… perutku penuh… hahh… hahh… nghhh!!”
Hantu itu menghunjam dengan irama lambat tapi kuat Setiap dorongan membuat suara basah mesum terdengar—plok… plok… plok… pelan dulu, lalu semakin cepat.
Desahan Oline semakin kacau. “Ahh! Ahh! Hhnngg—! Pelan… pelan dulu… uhh… terlalu kasar… aaahhh!!”
Tubuh Oline yang ramping bergoyang hebat di kasur. Payudaranya bergoyang-goyang, putingnya merah karena hisapan tadi. Tangan hantu meremas keduanya kasar, mencubit putingnya hingga Oline menjerit campur kenikmatan.
Ia tak sanggup menyelesaikan kalimat. Gelombang kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya datang bertubi-tubi. Setiap kali kejantanan hantu itu menghunjam dalam-dalam, menyentuh titik paling sensitif, tubuhnya kejang. Pinggulnya kini naik turun sendiri, menyambut setiap hantaman.
“Hah… hah… enak… kenapa jadi enak… ahhn—! Lebih dalam… ya… di situ… uuuuhhh!!”
Oline sudah tak bisa membedakan lagi antara ketakutan dan kenikmatan. Air matanya terus mengalir, tapi mulutnya mengeluarkan erangan mesum yang memalukan.
“Lebih… dalam… ahh!” katanya tanpa sadar.
Hantu itu seolah puas mendengarnya. Irama jadi brutal. Kasur berderit keras. Tubuh Oline yang berkeringat digenjot tanpa ampun. Kejantanan dingin itu membesar di dalamnya, berdenyut-denyut. Dua tangan tak kasat mata menekan paha Oline lebar-lebar, membuka vaginanya maksimal.
“Oohh—! Gila… kontolnya berdenyut… dingin tapi panas di dalam… ahh—ahh—ahh!!” Oline menjerit-jerit. Payudaranya bergoyang-goyang liar setiap hantaman.
“Lebih cepat… hahh… genjot aku… aaahhh—!! Aku… aku mau keluar… nguuuhhh!!”
Orgasme pertama datang seperti gelombang tsunami. Oline menjerit panjang, tubuhnya kejang hebat, cairan squirtnya menyembur keluar membasahi perut dan paha hantu tak kasat mata.
“AAAAAHHHHHHHH—!!! Keluar… squirt… aku squirt… hahh… hahh… uuuuuhhh!!”
Tapi hantu itu tak berhenti. Ia terus menghunjam di tengah orgasme Oline, membuat kenikmatan itu berlarut-larut hingga Oline merasa akan gila.
“Oohh… oh my god… lagi… lagi… jangan berhenti… ahhn—! Aku gila… aku gila… hahh… aaahhh—!!”
Orgasme kedua datang tak lama kemudian. Kali ini lebih kuat.
“NGAAAAHHH—!!! Rahimku… rahimku penuh… enak sekali… hah… hah… mmhh—! Aku milikmu… aku milikmu… ahh—ahh—ahhhhh!!”
Dengan desahan serak yang terdengar seperti erangan dari neraka, hantu itu menyemburkan cairan dingin pekat di dalam rahim Oline. Volume yang tidak masuk akal. Perut Oline sedikit membuncit. Cairan dingin itu bocor deras dari vaginanya yang merah dan bengkak tiap kali kontol hantu itu berdenyut.
“Hot… dingin… penuh… aaahhh… banjir… aku banjir… uuuuhhh!!” desah Oline panjang sambil tubuhnya kejang-kejang menikmati kepuasan tertinggi.
Setelah puas, tekanan berat di tubuh Oline perlahan menghilang. Hanya tersisa tubuh gadis itu yang tergeletak lemas, kaki masih terbuka lebar, cairan aneh yang dingin dan kental terus menetes dari vaginanya ke seprai.
“Hah… hah… hah…” desahannya masih tersisa, tubuhnya sesekali berkedut. “Apa… apa yang baru saja terjadi… aku… aku menikmatinya… oh Tuhan…”
Oline menatap langit-langit dengan mata kosong. Napasnya tersengal. Tubuhnya masih berkedut-kedut menikmati sisa orgasme. Rasa malu, takut, dan kepuasan yang aneh bercampur aduk di dadanya.
Ia pelan-pelan menutup kakinya, meringkuk, dan menangis pelan.
“Hh… enak… terlalu enak…”
Tapi di sudut kamar, bayang hitam samar itu berdiri memperhatikan. Senyum lebar penuh nafsu terbentuk di kegelapan. Ia tahu—malam berikutnya, dan malam-malam selanjutnya, Oline tak akan bisa lepas lagi.
Karena sekarang, Oline sudah menjadi miliknya.
If you make a mistake, you can cancel it by pressing the reaction.