Malam itu Theater JKT48 terasa berbeda. Setelah pertunjukan reguler selesai dan penonton pulang, acara khusus “Sponsor Exclusive Night” dimulai di ruangan VIP lantai atas. Hanya segelintir member yang dipilih untuk hadir. Malam ini, dua member yang terpilih langsung oleh manajemen adalah Cynthia dan Anindya.
Cynthia, member dengan visual mature, payudara sedang berisi yang selalu jadi sorotan fans, dan tubuh berlekuk sempurna. Anindya, member imut dengan bokong montok, wajah babyface, dan aura polos yang membuat orang ingin melindunginya — sekaligus menghancurkannya.
Kedua gadis itu berdiri di tengah ruangan VIP hanya memakai lingerie hitam transparan dan kalung slave kecil bertuliskan “JKT48 Private Property”. Mereka berdua masih mengenakan make-up panggung yang sedikit luntur karena keringat penampilan tadi.
Melody, General Manager Theater, berdiri di depan mereka dengan senyum dingin yang berkuasa. Di sampingnya, Shani — Wakil GM Theater — memegang dua buah vibrator telur premium.
“Malam ini kalian berdua dipilih oleh sponsor utama dan staff senior,” kata Melody dengan suara tegas. “Cynthia, kamu dipilih karena body-mu sangat marketable. Dada besar, pinggul lebar, dan ekspresi wajahmu yang mudah menangis. Anindya, kamu dipilih karena wajah innocent-mu dan bokong yang empuk. Sponsor suka tipe yang terlihat rapuh.”
Anindya (Anin) menggigit bibirnya, tangannya gemetar. “Kak Melody… Ci Shani… ini… ini benar-benar harus? Aku masih baru… aku takut…”
Cynthia mencoba lebih tenang, tapi suaranya bergetar. “Kami idol… kenapa harus seperti ini? Aku… aku nggak siap melayani sponsor sebanyak itu…”
Shani tertawa pelan sambil mendekat. Ia memasukkan vibrator ke dalam vagina Cynthia terlebih dahulu, lalu ke Anindya. Getaran rendah langsung dinyalakan.
“Hngh…!” Cynthia tersentak, pahanya langsung merapat. “Ahh… getarannya… pelan dulu Kak… ini terlalu dalam…”
Anindya langsung mengeluarkan desahan kecil. “Aaa… Kak Shani… perutku… aneh… hah… hah… jangan getar kuat-kuat…”
Melody mendekat dan mengusap pipi Cynthia. “Ini sudah jadi bagian dari kontrak kalian sebagai member. Kalian dipilih karena kalian punya potensi besar untuk ‘membangun hubungan baik’ dengan sponsor. Malam ini kalian resmi jadi slave mereka. Full submission. BDSM light sampai berat. Kalian tidak boleh menolak.”
Vibrator dinaikkan sedikit intensitasnya. Kedua gadis itu sudah mulai gelisah. Cairan bening mulai menetes pelan di paha mereka.
Tak lama kemudian, lima orang masuk ke ruangan: tiga sponsor utama (pengusaha kaya yang rutin mendanai theater) dan dua staff senior manajemen.
Sponsor tertua langsung mendekati Cynthia, tangannya meremas payudaranya dari luar lingerie dengan kasar. “Ini yang namanya Cynthia ya… dada asli yang padat. Bagus.”
Cynthia menggigil. “Ahh… Tangan Bapak… kasar… hahh… aku… aku member idol… ini memalukan…” Wajahnya memerah hebat, campuran malu dan getaran vibrator yang semakin mengganggu.
Anindya dikelilingi dua staff. Bokongnya yang montok diremas dan ditampar pelan. “Nghh!! Jangan di situ… Kak… ahhn… bokongku sensitif… hah… hah…”
Awalnya berjalan lambat. Mereka hanya menjelajahi tubuh kedua member itu. Lingerie diturunkan perlahan. Payudara Cynthia dikeluarkan, putingnya yang pink dicubit dan dihisap bergantian oleh para sponsor. Anindya dipaksa membungkuk, vibrator ditarik keluar sebentar lalu diganti jari-jari kasar yang mengorek vaginanya.
“Hah… ahh… jangan hisap terlalu kuat… putingku… sensitif sekali… uhhmm!!” desah Cynthia. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa diperlakukan seperti barang seks, tapi sensasi panas di perutnya semakin kuat.
Anindya menangis pelan. “Aaahh… jari Kakak… dua… terlalu banyak… aku… basah… kenapa aku basah… hngg… Anin malu… ahhn!!”
Setelah pemanasan yang panjang, mereka mulai menggilir dengan lebih intens. Cynthia dipaksa berlutut. Dua kejantanan tebal bergantian memasuki mulutnya.
“Glk… glk… mmmphh—!! Terlalu besar… mulutku… penuh… hahh… glk!!” Air liurnya menetes ke payudaranya yang bergoyang.
Di sebelahnya, Anindya ditindih di sofa. Kejantanan pertama masuk ke vaginanya dengan pelan tapi dalam.
“NGAAAAHHH—!! Besar… Kak… Anin robek… ahh… ahh… sakit… tapi… dalam sekali… hahh… hahh…” Tubuh rampingnya melengkung hebat. Air matanya mengalir, tapi pinggulnya mulai bergerak pelan mengikuti irama.
Cynthia kemudian ditindih oleh sponsor gemuk. Kejantanan tebalnya mendorong masuk perlahan ke dalam vagina Cynthia yang sudah sangat basah.
“Aaaahhhhh—!! Perutku… penuh… punya Bapak… panas… vibratornya masih nyala… ahhn—! Aku… aku member JKT48… kok jadi seperti ini… uuuuhhh!!”
Irama semakin cepat. Desahan keduanya semakin liar dan tak terkendali.
Cynthia: “Hah… hah… pelan dulu… ahh—ahh— lebih dalam… ya… di situ… kontolnya ngena banget… aaahhn—!!”
Anindya: “Oohh… genjot Anin… bokongku diremas… ahh… ahh… aku… aku suka… maaf Cyn… enak… hnggg—!!”
Mereka diposisikan berdampingan. Saling berpegangan tangan sambil digenjot bergantian. Sponsor dan staff berganti-ganti, kadang memasukkan dua Kejantanan sekaligus ke dalam vagina Cynthia yang lebih longgar, sementara Anindya merasakan double penetration untuk pertama kalinya.
“NGAAAAAHHHH—!!! Anus Anin… sakit… robek… aaahhh… penuh… terlalu penuh… hah… hah… tapi… jangan berhenti… deeper… Anin mau… uuuuhhh!!” jerit Anindya histeris.
Cynthia sudah hampir pingsan karena orgasme bertubi-tubi. “Aku… cum lagi… ahh—ahh—AAAAHHHH—!!! Squirt… aku squirt… rahimku penuh… isi terus… aku slave sponsor… aku slave Theater… hahh… hahh!!”
Sekarang bagian paling brutal.
Cynthia dibaringkan lebar. Orang pertama dan Orang kedua mendekat.
“Siap DVP, Cyn? Dua batang gede sekaligus ngerusak rahim lo.”
Cynthia mata melotot, tapi suaranya penuh nafsu,
“Dua batang…? rahim Cynthia bakal robek… tapi… masukin… tolong… NGAAAAAHHHHHHHH—!!! DUA BATANG DI VAGINA AKU!! Robek… perut Cynthia mau pecah… ahh… ahh… genjot bareng… hah… hah… enak… enak banget… dua batang masuk vagina Cynthia… lebih cepat!! Aku cuma lubang buat kejantanan lo berdua… AAHHH—!!”
Orang Pertama dan Orang Kedua menghunjam bergantian dan bersamaan. Memek Cynthia diregangkan maksimal.
“Dalem… dalem banget… Cynthia cuma punya kalia … genjot terus… hancurkan aku… aku cum… aku cum lagi… NGUUUHHH—!!! Ahhh keluaarr… Cynthia keluarr sambil DVP… aaahhh!!”
Mereka akhirnya creampie bersamaan di dalam vagina Cynthia. Sperma panas dua orang memenuhi rahimnya hingga perut bawahnya membuncit dan cairan putih kental menyembur keluar tiap kali kejantanan berdenyut.
“Panas… sperma dua orang… vagina Cynthia banjir parah… Cynthia creampie DVP… hahh… hahh… terima kasih Pak… terima kasih Mas…”
Malam itu berlangsung hampir dua jam. Kedua member JKT48 itu digilir habis-habisan. Tubuh mereka penuh bekas remasan, hisapan, dan cairan sperma kental yang menetes dari vagina dan anus.
Ketika semuanya selesai, Cynthia dan Anindya tergeletak lemas di atas sofa besar. Makeup luntur, rambut acak-acakan, lingerie robek di mana-mana. Vibrator masih menyala pelan di dalam tubuh mereka.
Cynthia memandang Anindya dengan mata sayu. “Anin… kita… benar-benar sudah nggak bisa mundur lagi ya…”
Anindya, dengan suara serak, hanya bisa mendesah pelan, “Tapi… enak… Cyn… besok… kita harus latihan lagi… hah…”
Melody dan Shani berdiri di depan pintu, tersenyum puas.
“Bagus sekali penampilan kalian malam ini,” kata Melody. “Mulai sekarang, kalian berdua jadi slave utama untuk acara sponsor. Selamat datang di dunia hiburan yang sebenarnya.”
Ruangan VIP kembali sunyi, hanya tersisa napas tersengal dan desahan pelan dua member idol yang baru saja kehilangan segalanya — sekaligus menemukan kenikmatan terlarang yang tak bisa mereka tolak lagi.
If you make a mistake, you can cancel it by pressing the reaction.